Tingkatan Wara’ menurut Imam Ghazali

wara'

Para sufi mempunyai definisi tersendiri tentang sifat wara’. Salah satunya definisi wara’ yang dikemukakan oleh Imam Ghazali. Bahkan sifat wara menurut Imam Ghazali terdapat beberapa tingkatan..

Wara’ berasal dari bahasa Arab diartikan dengan menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Dalam kamus Al Munawwir, wara’ mempunyai arti menjauhkan diri dari dosa, maksiat dan perkara syubhat. Sedangkan menurut istilah wara’ adalah menjauhi perkara yang syubhat karena takut terjatuh dalam perkara yang haram. Seorang sufi masyhur bernama Ibrahim bin Adham wara’ menyebut wara adalah meninggalkan perkara yang syubhat.

Menurut Imam Ghazali, wara ”adalah meninggalkan atau menghindari segala hal yang mengandung syubhat atau tidak jelas status halal haramnya.

Tingkatan wara’ menurut Imam Al-Ghazali yang diambil dari buku Kisah-kisah Ajaib Imam Ghazali karya Mukti Ali ada empat, berikut tingkatannya:


Pertama, wara’ul ‘adl atau menjauhi dari yang haram. Pengertian wara ini adalah menjauhi segala sesuatu yang telah ditetapkan keharamannya oleh fatwa-fatwa ulama fuqoha.


Kedua, wara’ kaum shalihin atau menjaga dari yang haram bagi golongan orang-orang sholeh. Menurut imam Ghazali wara’ kedua ini bisa diartikan mencegah dari sesuatu yang masih mengandung potensi haram, akan tetapi seorang unti masih memberikan kemudahan alias memperbolehkan meraihnya. Hal ini berkaitan dengan hukum subhat yaitu remang-remang antara Alan dan haram. Bagi golongan orang-orang shalih mereka akan lebih memilih menjauhi atau meraih sesuatu yang masih subhat. Meski berpotensi diperbolehkan, mereka akan memilih hukum yang tidak memperbolehkannya.


Ketiga, wara’ kaum muttaqin atau menjaga dari yang haram bagi golongan orang-orang bertakwa. Wara’ tingkatan ketiga ini menjaga dari sesuatu yang tidak difatwakan sebagai haram dan tidak pula kehalalannya masih subhat, akan tetapi ada kekhawatiran akan mendatangkan keharaman. Dengan kata lain meninggalkan sesuatu yang tidak apa-apa karena dikhawatirkan menjadi sesuatu yang apa-pa alias membahayakan.


Keeempat, wara ‘kaum shiddiqin atau menjaga dari yang haram bagi yang berkeyakinan kuat. Intu dari wara ‘keempat ini adalah sesuatu yang tidak ada apa-apa dan tidak pula yang dikendalikan, tetapi mempunyai potensi atau tujuan selain kepada Allah. Ada pula potensi tergelincir dari niat bukan untuk takwa dan mendapatkan rida Allah SWT.


Itulah macam-macam wara’ yang bisa menjadi introspeksi bagi kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

qiraah

Ilmu Qiraah dan Asal Usulnya

Ilmu Qiraah atau ilmu yang membahas tentang cara pengucapan tiap kata dari al Quran ternyata mempunyai berbagai jalur penuturan. Meskipun berbeda-beda namun tetap mengacu pada