Doa Nabi Musa Alaihis Salam

doa

Sebuah doa dari Nabi Musa as. pernah diajarkan oleh Rasulullah saw. Doa tersebut merupakan doa ketika Nabi Musa membelah lautan saat dikejar Firaun dan pasukannya.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Maukah kamu semua aku ajari sebuah kalimat yang diucapkan Nabi Musa AS ketika melintasi lautan bersama Bani Israil?”. Kami semua menjawab, “Baik Ya Rasulullah”. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Ucapkanlah kalimat ‘Allahumma la Kal hamdu wa ilai Kal Musytaka wa Antal Musta’aan wa laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim’.

Berikut adalah doanya:

اَللهم لَكَ الْحَمْدُ وَاِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَاَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Artinya :

Ya Allah segala puji hanya untuk-Mu, dan hanya kepada-Mu lah tempat mengadu, dan Engkaulah Penolong dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Zat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung).

Al-A’masy berkata, “Tidaklah kami pernah meninggalkan membaca kalimat itu sejak kami mendengarnya dari Syaqiq Al-Asady Al-Kuufy. Barang siapa pada waktu pagi hari berduka atas perkara duniawi, maka sesungguhnya ia telah marah kepada Tuhannya.”

Doa tersebut diatas adalah doa yang kita dibaca ketika menghadapi kesulitan-kesulitan yang menghimpit. Doa tersebut mengharapkan adanya “keajaiban” yang menjadi jalan keluar dari Allah SWT. Redaksi doa itu berisi pujian kepada Allah, pengakuan ketakberdayaan diri, serta permohonan pertolongan. Tempat mengadu paling tepat adalah Allah, bukan manusia

Dalam karya Prof Dr. as Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki Hasani yang berjudul Aswabul Faraj : Kitab Doa, Wirid dan Amalan Pemecah Segala Masalah  ditambahkan doanya dengan kalimat sebagai berikut sebagaimana sebuah riwayat

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan doa tersebut sejak saya mendengar doa itu dari Rasulullah.” Kata Syaqiq, “Aku tidak pernah meninggalkan doa tersebut sejak saya mendengar doa itu dari Abdullah.” Kata A’masy, “Aku tidak pernah meninggalkan doa tersebut sejak saya mendengar doa itu dari Syaqiq.”   

Kata A’masy, “Kemudian ada orang yang datang kepadaku saat aku tidur. Ada yang mengatakan, ‘Tambahilah kalimat berikut ‘wa nasta’înuka ‘alâ fasâdin fînâ’ wa nas’aluka shalâha amrina kullahu’

وَنَسْتَعِينُكَ عَلىَ فَسَا دٍ فِيْناَ وَ نَسْأَ لُكَ صَلاَ حَ أَ مْرِ نَا كُلِّهِ

“Dan kami memohon pertolongan Mu atas kerusakan di tengah kami dan kami memohon kepada Mu kebaikan atas semua urusan kami.”

Tentang kesedihan karena urusan dunia Rasulullah saw sendiri pernah bersabda, “Barang siapa yang pada waktu pagi hari (memasuki waktu subuh) dalam keadaan mengadu kepada manusia tentang kesulitan hidupnya, maka seakan-akan ia telah mengadukan Tuhannya”.

Disebutkan dalam Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syeikh Nawawi Al-Bantani mengatakan bahwa pengaduan selayaknya hanya kepada Allah SWT. Ketika mengadu kepada manusia menunjukkan tidak adanya rida dengan pembagian Allah SWT. Itulah yang diajarkan dari doa Nabi Musa as. ini.

Wallahu A’lam Bishowab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain