Rawdah Mohamed dari Kamp Pengungsi ke Mode Dunia

rawdah

Vogue adalah salah satu majalah model dunia. Majalah fashion ini sering menjadi tolok ukur bagi perkembangan mode di dunia. Tren hijab belakangan membuat majalah ini juga menulis dan membahasnya dalam artikel maupun foto. Salah satu editornya adalah muslim berhijab bernama Rawdah Mohamed.

Dunia mode adalah dunia Rawdah Mohammed. Sebelumnya ia adalah model yang tampil dalam beberapa peragaan busana seperti Oslo Fashion Week, Paris Fashion Week , Copenhagen Fashion Week dan gala selebriti Norwegia Kjendisgallaen.  

Penampilannya di Oslo Fashion Week pada Agustus 2019 dianggap sebagai titik balik dalam karir modelingnya.  Dia membuat penampilan perdananya di sampul majalah sampul majalah mode Norwegia Costume Norge. Sejak itu, Rawdah juga muncul di halaman depan publikasi dan editorial terkemuka seperti Vogue dan Majalah V di AS serta edisi Arab

Rawadah dikenal karena model street fashion. Tentang awal kariernya Rawdah mengungkapkan bahwa dirinya sering menghadapi penghinaan dan penolakan terutama di industri fashion. Pada acara Paris Fashion Week, Rawdah sempat diragukan tampil reaksi dari politisi Prancis yang melarang jilbab.

Rawadah kembali menjadi perhatian ketika mengambil bagian dalam protes media sosial terhadap keputusan Senat Prancis yang melarang gadis Muslim di bawah usia 18 tahun mengenakan jilbab di tempat umum. Ia memulai kampanye hashtag #Handsoffmyhijab. Dia memposting selfie-nya di Instagram dengan kalimat “lepaskan jilbab saya” yang tertulis di tangannya mengkritik larangan Prancis yang diusulkan pada penutup wajah untuk anak di bawah umur.

Pada Mei 2021, ia secara resmi ditunjuk sebagai editor majalah mendatang Vogue. Dia menjadi editor warna hijab pertama untuk majalah mode. “Ini akan bepengaruh besar bagi umat Islam dan saya melihat ini sebagai pencapaian kolektif untuk lebih memahami dunia mode,” ujar Rawdah Mohamed.

Masa kecilnya dihabiskan di kamp pengungsian.  Bersama keluarganya melarikan diri dari perangsaudara dan pindah ke Norwegia saat berusia delapan tahun.  “Kami datang ke Norwegia dan selama dua tahun kami tinggal di kamp suaka yang terletak di kota kecil. Itu menjadi lebih sulit karena orang-orang di sana sangat rasis. Mereka tidak ingin ada pengungsi karena mereka pikir kami berbahaya dan kami ada di sana akan mengambil pekerjaan mereka,” kata Mohamed kepada Arab News.

Di sekolah selama dua tahun yang dihabiskan Mohamed di kamp suaka bersama keluarganya. rawdah alami diintimidasi hanya mengenakan jilbabnya. Akibatnya guru-gurunya tidak mengizinkan Mohamed mengenakan jilbab ke sekolah. Peristiwa ini yang membuatnya menjadi merasa “trauma dan kesal.” “Ketika kami dalam perjalanan ke Norwegia, ibu saya terus mengatakan negara akan aman, bahwa tidak ada perang di sana dan kami dapat melakukan apa pun yang kami inginkan karena kami bebas,” katanya.

Rawdah berkisah bahwa kecintaannya pada dunia fashion berasal dari latar belakang Somalia-nya. Model itu mengatakan dia suka menonton para wanita di kamp pengungsi di Kenya di mana dia menghabiskan masa kecilnya bersiap-siap untuk pernikahan dan menemani ibunya ke pasar untuk “melihat apa yang semua orang kenakan.” “Di kamp pengungsi, saya adalah salah satu dari sedikit anak yang diizinkan menghadiri pernikahan hanya karena saya menyukai apa yang mereka lakukan. Saya akan duduk di jalan dan melihat para wanita lewat,” katanya. (Dari berbagai sumber)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain