Istilah Insan Kamil Abdul Karim al Jili

al jili

Al Jilli dikenal sebagai salah satu sufi yang misterius. Namun karya-karyanya sampai sekarang masih menjadi bahan perbincangan. Salah satu yang paling sering didiskusikan adalah Insan Kamil.

Bernama lengkap Abdul Karim ibn Ibrahim ibn Abdul Karim ibn Khalifah ibn Ahmad ibn Mahmud al-Jili. Al Jili masih memiliki pertalian darah dengan Syaikh Abdul Qadir Al Jilani.  Kapan lahir dan wafat para ahli sejarah berbeda pendapat. Ada yang mengatakan garis nasabnya tersambung dari cucu perempuan Syekh Abdul Qadir Jailani. Tapi beberapa ulama dan pengamat sufi sepakat, Al-Jilli lahir pada bulan Muharram tahun 767 H di Baghdad, Irak. Namun mengenai wafatnya para ulama dan pengamat sufi – seperti At-Taftazani, AJ. Arberry maupun Umar Ridha tidak sepakat.  Yang jelas Al Jili dilahirkan di Baghdad pada awal Muharam 782 H (sekitar 1355/1356 M) dan meninggal dunia di Zabid, Yaman utara. Ada juga versi lain yang menyebutnya wafat tahun 826 H (1421/1422 M).

Pengamat sufi Ignaz Goldziher menyebutkan Al-Jilli lahir di sebuah desa dekat Bagdad yang bernama Al-Jil – yang kemudian dinisbatkan di belakang namanya. Sementara Tapi Nicholson, menganggap Al-Jilli bisa diartikan sebagai pertalian nasab dengan Jil atau Jilan menunjukkan ia adalah keturunan orang Jilan, sebuah daerah di wilayah Baghdad.

Beliau adalah seorang sufi yang populer di Baghdad, yang digelari dengan Syekh dan Quthb al-din,suatu gelar tertinggi dalam maqam sufi   Kehidupan al-Jili dihabiskannya di Yaman sebelum ia mengembara ke daerah India. Selama di Yaman, ia tinggal bersama gurunya Syeikh Syarifuddin Ismail Ibn Ibrahimal-Jabarty. Pada saat itu, tasawuf yang berkembang adalah corak tasawuf falsafi yang diprakarsai ibn ‘Arabi, dimana corak ini mempengaruhi bentuk tasawuf alJili. Tidak banyak tulisan-tulisan al-Jili dapat ditemukan.

Pada tahun 799 H al-Jili sampai di Kota Mekah. Di kota ini ia bertemu dengan para tokoh tasawuf di Masjid al-Haram. Di tempat ini juga al-Jili melakukan penempaan diri (al-Mujahadah) dengan sangat disiplin. Iatidak tinggal pada satu tempat tetapi berpindah-pindah. Jika ia diketahui keberdaannya, al Jilli langsung berpindah. Di persembunyiannya itu ia mendalami bahasa, Qur’an dan agama-agama kuno yang kemudian ia tuangkan dalam sebuah buku kritik.

Ada satu karyanya yang terbesar yang tidak terlepas dari pengaruh pemikiran tasawuf Ibnu ‘Arabi adalah al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhir wa alAwa’il. Kitab ini merupakan kitab unggulan dari al-Jili, terdiri dari dua jilid, mengandung 63 bab. Jilid pertama 41 bab dan jilid kedua 22 bab. Kitab ini diterbitkan oleh beberapa penerbit yakni Dar al-Kutub al-Mishriyah Kairo, Maktabah Shabih dan Mushthafa al-bab al-halabi di Kairo, dan Dar al-Fikr di Beirut

Dalam kitab ini al Jilli membahas sangat detail tentang Insan Kamil. Karyanya ini sampai sekarang menjadi bahan rujukan para penganut tarekat. Insan Kamil atau manusia yang sempurna merupakan derajat spiritual yang paling tinggi dan menjadi dambaan setiap muslim. Manusia akan merasakan kesejatiannya ketika masuk dalam derajat ini.

Meskipun konsep insan kamil ini terinspirasi dari konsep wahdat al-wujud Ibnu Arabi, bukan berarti al-Jili sepenuhnya mengadopsi pemikiran ibn ‘Arabi. Mungkin dalam beberapa hal, mempunyai kemiripan dengan apa yang dijelaskan oleh Ibnu ‘Arabi, seperti Qadim atau baharunya alam, namun dalam konteks uraiannya, ia justru telah memberikan kontribusi yang tidak sedikit dalam memberikan uraian secara sistematis dan integral terhadap pemikiran tasawuf falsafi Ibnu ‘Arabi

Para pakar menyebut Abdul Karim al-Jilli sebagai interpreter, penafsir terbaik pemikiran Syeikh Muhyidin Ibn Arabi. Hal ini dpengaruhi oleh gurunya Syarafudin bin Ismail al-Jabarti salah seorang penganut tasawuf falsafinya Ibnu Arabi. Karya-karya Al jili juga memancing perdebatan. Bahkan dibakar oleh kalangan fuqoha yang literlaris.

Ada sebuah hikayat menarik tentang kitab Insan Kamil karya Al Jilli ini. Suatu saat seorang faqih bernama Ibnu Amir menderita sakit satu setengah tahun. Berbagai obat telah dicoba namun tidak kunjung sembuh. Sampai akhirnya ada seorang ahli fiqih datang menjenguknya dan membawa kitab Insan Kamil. Kitab itu kemudian dibakar untuk memasak roti tawar. Anehnya penyakit Ibnu Amir sembuh karena membuat obat dengan menggunakan kedua kitab itu untuk memasaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

iblis

Dialog Sufi dan Iblis

Dikisahkan Junaid Al Bagdad, serang sufi yang masyhur ini ingin bertemu Iblis. Hingga suatu hari akhirnya berjumpalah dengan makhluk laknatullah ini. Ada dialog menarik ketika

kulit kentang

Sepuluh Manfaat Kulit Kentang

Kentang dikenal sebagai umbi-umbian yang kaya manfaat untuk tubuh. Selain menyehatkan , rasanya juga enak ketika direbus atau digoreng. Namun ternyata kulit kentang juga mempunyai