Islam Washatiyah Berislam Dengan Kedewasaan

Istilah Islam washatiyah menimbulkan banyak pertanyaan. Apa sebenarnya yang dimaksud Islam washatiyah itu? Kiai Cholil Nafis menjelaskan secara sederhana bahwa Islam Wahatiyah adalah berislam dengan kedewasaan.

“Sikap keberagamaan yang dewasa itu Islam Wasathiyah. Bersikap dewasa dalam beragama, ”ujarnya KH Cholil Nafis saat mengisi acara webminar baru-baru ini.  Menurut Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah Islam Wasathiyah bisa dimaknai dengan cara ber-Islam dengan kedewasaan. “Selain sebagai Islam jalan tengah, tidak ekstrem kiri maupun kanan, Islam Wasathiyah juga bermakna sikap keagamaan yang dewasa,” tambahnya.

Selanjutnya Kiai Cholil mengatakan, salah satu contoh kedewasaan dalam berislam adalah dengan fokus pada tujuan setiap muslim untuk memajukan Islam. Di dalam hati dan pikirannya tidak ada pikiran yang kerap mengkotak-kotakkan Islam sesuai organisasinya dan merasa paling benar. Perbedaan memang ada, tetapi menurutnya, selama perbedaannya hanya di level cabang (furu’) saja maka di dalam Islam layak diterima dengan baik.

Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah menambahkan bahwa Islam Wasathiyah juga tergambar dari kedewasaan menerima kemajuan. Beliau mencontohkan bahwa menyikapi Masjid misalnya, meskipun tidak boleh digunakan sebagai tempat berdagang (pasar), namun tidak berarti Masjid terlarang melakukan pembicaraan wacana ekonomi di dalamnya. “Yang tidak boleh adalah Masjid digunakan untuk berdagang. Ilmu berdagang tentu boleh dan patut disampaikan. Kalau Masjid hanya dipakai untuk shalat dan mengaji saja, bisa-bisa kita menjadi sekuler, ” ujarnya.

Pada saat pandemi Covid-19 saat ini sangat dibutuhkan sikap kedewasaan beragama. Salah satunya adalah sikap beragama ketika merespon Covid-19 dengan mendahulukan kepentingan umum dibandingkan kepentingan pribadi. Sikap kedewasaan itu juga tercermin misalnya dari keputusan tidak menggelar ibadah jamaah di dalam Masjid pada wilayah Covid-19 level 4.

Menurutnya masjid dapat digunakan untuk membicarakan semua wacana. Dengan begitu masjid menjadi tempat untuk membangun kebersamaan pada semua bidang. “Selain mengaji dan sholat berjamaah, dari Masjid, kita ingin membangun bisnis yang berjamaah, politik yang berjamaah. Kalau itu bisa kita lakukan, pasti umat Islam akan maju, ” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain