Mohammad Natsir Perdana Menteri yang Numpang Di Paviliun

M Natsir

Mohammad Natsir adalah salah satu politikus ulung dan salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia. Sebagai Ketua Masyumi dan pernah menjabat sebagai Perdana Menteri ternyata hidupnya sangat sederhana. Bahkan pernah numpang di paviliun.


Cerita tentang kesederhanannya tidak pernah habis. Selain pernah numpang di paviliun, baju jasnya juga bertambal. Sebagai seorang yang pernah menjabat Menteri Penerangan tahun 1946 dan Perdana Menteri Indonesia tahun 1950-1951 ternyata tidak punya rumah. Bahkan kesulitan membeli rumah. Saat menjadi menteri bertahun-tahun harus menumpang hidup di paviliun Prawoto Mangkusaswito, di kampung Bali, Tanah Abang yang merupakan sahabatnya.

Sewaktu pusat pemerintahan pindah ke Yogyakarta, pindah ke di paviliun milik Haji Agus Salim di Jalan Gereja Theresia yang sekarang ada di jalan H Agus Salim. Namun periode menumpang berakhir ketika menempati rumah di Jalan Jawa pada akhir 1946. Rumah tanpa perabot ini dibeli pemerintah untuk rumah dinas Menteri Penerangan. Bahkan untuk isi rumah keluarga Natsir membelinya dari perabot bekas.

Ketika menjadi PM pada Agustus 1950, keluarga Natsir menempati rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat. Hal ini tidak terlepas bahwa rumah dinasnya di Jalan Jawa sangat sempit dan kusam dan dianggap tak layak untuk seorang pemimpin.

Itulah sosok Mohammad Natsir pejabat yang sederhana. Pria kelahiran 17 Juli 1908 di Solok, Sumatera Barat ini dikenal seorang ulama, politikus, dan pejuang kemerdekaan Indonesia sekaligus pemimpin partai Masyumi. Di kancah internasional pernah menjabat sebagai presiden Liga Muslim Dunia (World Muslim League) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia.

Natsir terjun ke politik pada pertengahan 1930-an. Pada 5 September 1950, ia diangkat sebagai Perdana Menteri Indonesia kelima dan mengundurkan diri dari jabatannya 26 April 1951. Hal ini disebabkan karena berselisih paham Presiden Soekarno dan kemudian membuatnya mendekam di penjara. Pada tahun 1966 Natsir bebas. Jiwa kritisnya tak luntur, hingga membuat dirinya dicekal presiden Soeharto.

Natsir juga piawai melontarkan gagasannya tentang keislaman. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam hingga akhir hayatnya. Ada sekitar 45 buku yang telah dibuat dan ratusan karya tulis. Mohammad Natsir meninggal tahun 6 Februari 1993.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

Kisah Lampu Abu Yazid

Abu Yazid al Bustami adalah seorang sufi yang kisah-kisah hikmahnya sampai sekarang masih terus dibaca dan diperdengarkan. Tidak hanya kaya akan keteladanan, kisah-kisah Abu Yazid