Seorang Wali yang Tiap Hari Membuang Tetesan Air Kotor Tetangganya

Ada sebuah kisah menarik tentang akhlak at Tustari ini. Dalam buku Qashasus As Sholikhin karya Dr Mustafa Murad dikisahkan bahwa at Tustari mempunyai tetangga yang beragama Majusi. Kebetulan tetangga tersebut tinggal di atas tempat tinggalnya.

Tetapi si tetangga tidak pernah menyadari bahwa kamar mandinya bocor sehingga setiap hari menetes di rumah At Tustari. Air kotor tersebut ditampung di ember. Setiap malam at Tustari membuangnya. Memilih waktu malam agar orang lain tidak melihatnya dan tetangganya tidak malu.

Pada suatu hari at Tustari sakit dan tetangganya pun datang menjenguk. Iapun melihat ada yang menetes dari arah kamar mandinya. Tetesan yang besar itu meluncur deras di ember besar At Tustari.

“Tetesan apa ini?,” tanya sang tetangga.

“Ini adalah air kotor yang menetes dari kamar mandi mu yang bocor. Aku membuangnya kala malam tiba. Hal itu kulakukan cukup lama. Hanya aku khawatir ketika telah tiada orang yang menempati rumah ini tidak dapat menerimanya. Bagaimana pendapatmu?” jawab at Tustari.

Mendengar jawaban tersebut, tetangga itu pun kaget. Ia tidak menyangka bahwa air dari kamar mandinya bocor. Lalu ia berkata,” Wahai syekh, engkau bergaul denganku sudah cukup lama. Sedang aku hidup dalam kekufuran. Ulurkan tanganmu, aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah.”

Bernama lengkap Abu Muhammad Sahal bin Abdulllah At Tustari adalah tokoh sufi yang yang lahir di Tustar, Persia. Sufi ini hidup antara 283-200 H/ 815-896 M. Dikenal sebagai ulama yang wara dan mempunyai banyak keutamaan dalam muamalahnya.

Dalam Risalah Al Qusyairiyah diriwayatkan bahwa suatu hari pamannya menasehati At Tustari.“ Wahai Sahal jika seseorang merasa bahwa Allah Yang Maha Agung selalu melihat dan menyaksikannnya, maka apakah ia akan durhaka (bermaksiat) kepadaNya? Jauhilah maksiat,” kata pamannya. Mendengar wejangan tersebut At Tustaripun kemudian menempuh jalan khalwat atau menyepi. Melihat keadaan itu, keluarganyapun kemduian mengirim At Tustari ke sebuah madrasah. Melihat kenyataan itu At Tustaripun merasa sedih dan berkata,” Sungguh saya takut jika akan mengamali banyak kesedihan.” Pihak keluarganya memberikan alasannya lagi dengan memberitahukan bahwa dirinya hanya belajar satu jam saja.

Abdurrahman bin Muhammad pengarang kitab Shifatul Auliya’ wa Maratibul Ashfiya’ meriwayatkan bahwa Sahl At Tustari sudah terbiasa berdzikir kepada Allah sejak usia 3 tahun. Ia juga sudahterbiasa puasa sejak usia 5 tahun hingga wafatnya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan dirinya sudah memulai bepergian jauh untuk menuntut ilmu sejak umur 9 tahun. Ada yang mengatakan bahwa sudah hafal Al Qur’an pada umur 6 tahuh. Pada umur 12 tahun sudah biasa memberikan fatwa tentang masalah-masalah zuhud dan wara’ kedudukan iradah, fikih ibadah dan lain sebagainya

Kebiasan sejak kecil yang sangat menonjol adalah puasanya. At Tustari menuturkan bahwa dirinya berpuasa setiap hari mulai umur 12 tahun. Suatu saat ia mempunyai pertanyaan dan meminta keluarganya untuk mengirimkan ke Basrah, Iraq. At Tustari kemudian mendatangi beberapa ulama di kota tersebut. Namun saya tidak ada jawaban yang memuaskan dirinya.

Hingga akhirnya pergi ke Abadan dan bertemu dengan Abu Habib Hamzah bin Abdullah al Abadani. At Tustari pun bertanya kepadanya dan mendapatkan yang benar. Akhirnya berguru pada Abu Habib Hamzah bin Abdullah. Ketika menuntut ilmu di Abadan, at Tustari membatasi makannya. Bahkan dengan uang satu dirham dirinya bisa mencukupi kebutuhan makan selama setahun. Hari harinya diisi dengan puasa. Bahkan selama 26 hari hanya sahur sekali.

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain