Ketika Doa Nabi Zakaria Alaihis Salam Dikabulkan Allah Taa’la

Nabi Zakaria dan istrinya adalah keluarga yang sudah lama tidak diberi oleh Allah Taa’la keturunan. Bahkan sang istri divonis tidak bakal mempunyai keturunan oleh sejumlah ahli. Seiring bertambahnya tahun, Nabi Zakaria dan istrinya merasa harapannya untuk mempunyai keturunan jauh dar kenyataan.

Namun sebagai hamba Allah SWT yang mulia, Nabi Zakaria tidak pernah berhenti untuk berdoa. Umurnya yang memasuki usia senja tidak menyurutkannya untuk selalu memohon kepada Ilahi Rabbi.

Disebutkan saat pagi hari matahari sudah mulai meninggi, Nabi Zakaria terdorong masuk ke mihrab salah satu kerabat dekatnya yang sedang bertapa yaitu Siti Maryam. Zakaria terkejut karena menemukan makanan dan buah-buahan segar di kamar saudara perempuannya itu. Kejadian ini tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali. Al-Qur’an mengisahkan, “setiap kali Zakaria memasuki mihrab Maria, ia selalu menemukan makanan di sisi Maryam”. Zakaria merasa curiga dan membatin,”Bagaimana mungkin Maryam yang tak pernah keluar dari mihrabnya bisa ada makanan di sisinya.

Kemudian Zakaria memberanikan diri bertanya, “Dari mana makanan itu berasal?”.

Maryam menjawab, “Itu dari Allah”.

Jawaban tersebut menjadi motivasi Nabi Zakaria AS untuk terus berharap anugerah dari Allah Taa’la. Nabi Zakaria kemudian meminjam mihrab Maria untuk berdoa. Dalam al-Qur’an disebutkan, “Hunalika da’a Zakariah rabbah” (di lokasi itu Zakaria mengadu pada Tuhannya). Ia berdoa, “Ya Allah, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa”.

Saat Nabi Zakaria sedangberdiri dalam shalatnya, datanglah Jibril dengan membawa berita gembira. Malaikat Jibril  mengabarkan bahwa Nabi Zakarian akan dianugerahi anak laki-laki bernama Yahya. Anak tersebut  akan menjadi pembenar firman Allah SWT dan menjadi panutan banyak orang. Bahkan, Yahya kelak akan diangkat menjadi seorang nabi. Doa Nabi Zakaria dikabulkan Allah. Ia kemudian mempunyai keturunan mempunyai diberi Yahya yang kemudian juga diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

( Kisah ini disadur dari tulisan KH Abdul Moqsith Ghazali di laman nu.or.id)

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain