Kala Rabiah Berbantal Batu Bata

rabiah

Rabiah Adawiyah adalah salah satu sufi perempuan yang masyhur dengan mahabbahnya kepada Allah. Sufi ini juga dikenal karena kezuhudannya. Salah satunya ketika sedang sakit hanya beralaskan tikar yang lusuh dan berbantal batu bata.

Dikisahkan suatu hari Rabiah sakit keras. Sahabat-sahabatnya banyak yang menjenguk. Salah satunya adalah Malik bin Dinar. Saat dia menjenguk, Malik merasa trenyuh. Beliau melihat Rabiah sedang tidur diatas tikar yang lusuh serta batu bata sebagai bantalnya. Pemandangan ini membuat Malik bin Dinar iba dan ingin membantunya. Malik kemudian berkata,” Aku memiliki teman-teman yang kaya jika engkau membutuhkan bantuan aku akan meminta kepada mereka.”

“Wahai Malik engkau salah besar. Bukanlah yang memberi makan mereka dan aku adalah sama?” jawab Rabiah.

“Ya, memang sama,” kata Malik bin Dinar.

Lantas Rabiah berkata lagi,” Apakah Allah SWT akan lupa kepada hamba Nya yang miskin dikarenakan kemiskinannya. Apakah Dia ingat kepada hamba Nya dikarenakan kekayaannya.”

Malik bin Dinar spontan menyahut,” Tidak!”

“Karena Dia mengetahui keadaanku, mengapa aku harus mengingatkannya. Apa yang diinginkan Nya maka kita harus menerimanya,” jawab Rabiah.

Jawaban tersebut membuat Malik bin Dinar termenung.

Rabiah adalah seorang sufi yang hidupnya sangat zuhur. Pernah akan diberi seorang budak oleh al Jahiz namun dia menolaknya. “ Sungguh aku sangat malu meminta kebutuhan duniawi kepada Pemilik dunia ini. Bagaimana aku harus meminta kepada yang bukan pemilik dunia,” ujar Rabiah.

Setelah berkata tiba-tiba ada suara,” Jika engkau menginginkan dunia ini, maka akan Aku berikan semua dan Aku berkahi. Tetapi Aku akan menyingkir dalam kalbumu, sebab aku tidak mungkin berada dalam kalbu yang memiliki dunia ini. Wahai Rabiah, Aku mempunyai Kehendak dan begitu juga denganmu. Aku tidak mungkin menggabungkan dua kehendak itu di dalam satu kalbu.”

Itulah Rabiah Adawiyah. Kisah-kisahnya syarat akan hikmah dan teladan semua orang. Totalitasnya menjadi hamba Allah SWT menjadikan dirinya waliyullah yang penuh dengan mahabbah. Wallahu A’lam Bishowab  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain