Kisah Lampu Abu Yazid


Abu Yazid al Bustami adalah seorang sufi yang kisah-kisah hikmahnya sampai sekarang masih terus dibaca dan diperdengarkan. Tidak hanya kaya akan keteladanan, kisah-kisah Abu Yazid mempunyai makna yang sangat mendalam. Salah satu kisahnya yang membikin trenyuh ketika memberi lampu kepada tetangganya yang beragama Majusi atau penyembah api.

Disebutkan bahwa tetangga Majusi otu jika malam hari gelap gulita. Tetangganya itu mempunyai seorang anak yang kalau malam tiba sering menangis. Usut punya usut ternyata penyebabnya keluarga dengan satu anak ini tidak mempunyai lampu. Melihat ini Abu Yazid menjadi iba. Lantas Abu Yazid dengan membawa lampu yang terang benderang. Sesampainya di rumah keluarga tersebut Abu Yazid mengetuk pintu. Ketika pintu terbuka, beta kagetnya keluarga tersebut.


“ Aku memberikan lampu ini kepada keluargamu,”kata Abu Yazid.


Keluarga tersebut tampak sumringah mendapati lampu pemberian Abu Yazid. “Karena bahaya Abu Yazid telah masuk, sungguh sangat disayangkan kami terus dalam kegelapan kami sendiri,” ujar keluarga Zoroaster tersebut. Sejak kedatangan Abu Yazid, keluarga itu menyatakan keislamannya.


Dalam beberapa kitab tasawuf, Abu Yazid sering menjadi referensi. Al-Munawi dalam al-Kawakibud Durriyyah menyebut Abu Yazid sebagai sosok yang paling ma’rifat di antara orang-orang yang berma’rifat. Nahik dengan mengutip al-Khawafi, menyebutnya sebagai Sulthanul Arifin dan Ibnu Arabi menamainya dengan Abu Yazid al-Akbar.
Tentang asal-usulnya, Faridhudin al-Athar dalam Tadzkiratul Auliya’, menyebut nama panjangnya adalah Abu Yazid Thaifur bin `Isa bin Surusyan al-Bisthami.

Abdurrahman Jami dalam Nafahat al-Uns, menulis bahwa Abu Yazid lahir di Bistham, tahun 188 H atau 808 M. Ayahnya seorang pedagang terpandang, dan kakeknya penganut Zoroastrian yang masuk Islam. Namun menurut Abdurrahman Jami dalam Nafahat al-Uns, kakeknya seorang Yahudi dan kemudian masuk Islam.

Tentang wafatnya ada beberapa perbedaan. Banyak literatur menyebutkan bahwa Abu Yazid wafat pada tahun 261 Hijriyah /875 Masehi. Namun ada juga yang berpendapat bahwa wafatnya pada tahun 264 Hijriyah / 878 Masehi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain