Sahabat Rasulullah saw . yang Ditunggu para Bidadari

“Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya,” kata Rasulullah.

Begitu sabda Rasulullah saw saat menemukan jenazah sahabatnya bernama Julaibib. Dikisahkan bahwa usai peperangan Nabi bertanya kepada para sahabatnya, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak ya Rasulullah” para sahabat menjawab.

Setelah itu Rasulullah saw. menghela nafasnya dan kemudian berkata “Tetapi aku kehilangan Julaibib.” Mendengar hal itu para sahabat kemudian sahabat tersadar dan mencari Julaibib. Namun yang terjadi Julalibib telah gugur. Wajah dan tubuhnya penuh luka. Namun disekitarnya ada ada tujuh jasad musuh telah dibunuh. Melihat hal itu Rasulullah saw kemudian mengkafani jenazah Julaibib dengan tangannya sendiri. Setelah itu beliau mensolatkan dan mendoakan Julaibib.

Seusai dimakamkan, tiba-tiba Rasulullah saw meneteskan air mata sambil memandang langit. Kemudian beliau tersenyum.  Melihat kejadian itu sahabat terheran-heran dan bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis di pusara Julaibib?”

“Aku menangis karena mengingat Julaibib. Seharusnya hari ini dia memintaku merestuinya untuk menikah. Semestinya hari ini juga dia tengah bahagia bersama istrinya. Namun, hari ini juga ia telah tiada,” ungkap Rasulullah saw.

“Lantas tadi kenapa engkau tersenyum?” tanya salah seorang sahabat.

“Saat memandang langit, aku melihat para bidadari turun menjemput Julaibib,” jawab Rasulullah.

Siapa sesungguhnya Julaibib, sehingga memperoleh derajat yang tinggi ? Dalam sejarah Islam, sahabat yang satu ini memang unik. Secara fisik bertubuh kerdil dan kehidupanya selalu terasing. Wajahnya terkesan sangar, pendek, bungkuk, hitam, dan fakir. Julaibib selalu memakai pakaian usang, lusuh dan tidak pernah memakai sandal. Seperti namanya yang tak biasa dan tidak lengkap, Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui kedua orang tuanya. Kondisi ini bagi masyarakat Yatsrib kala itu adalah sebuah aib besar.

Julaibib hidup sebatang kara. Jika tidur hanya berbantalkan tangan, beralaskan pasir dan kerikil. Ia juga tidak punya perabotan. Bahkan untuk minum Julaibib hanya memakai tangaannya. Tidak salah kalau  Abu Barzah, pemimpin Bani Aslam, sempat nyinyir dan berkata, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!” demikianlah keadaan Julaibib kala itu.

Julaibib tinggal dua suffah, masjid Nabawi. Pernah suatu ketika Rasulullah bertanya,“Julaibib, tidakkah engkau menikah?”

“Siapakah orang tua yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini, ya Rasulallah?” jawabnya Julaibib dengan ikhlas.

Rasulullah SAW kemudian tersenyum. Mungkin memang tidak ada orang tua yang berkenan mengambil jadi menantunya. Namun hari berikutnya, Rasulullah kembali menanyakan hal sama. Jawaban Julaibib juga sama. Pertanyaan itu diulang hinnga tiga kali. Dan pada hari ketiga itulah, Rasulullah memegang lengannya dan membawanya ke salah satu rumah pemimpin Anshar.

“Aku ingin menikahkan putri kalian,” kata Rasulullah pada si pemilik rumah.

“Betapa indahnya dan betapa berkahnya,” ucap tuan rumah dengan mengira anaknya akan dinikahi Rasulullah.

“Tetapi bukan untukku, tetapi aku pinang putri kalian untuk Julaibib,” tegas Rasulullah.

“Julaibib?” ucap ayah sang gadis seperti tak percaya

“Ya, dengan Julaibib,” ungkap Rasulullah saw.

“ Kalau begitu wahai Rasulullah. Saya harus meminta pertimbangan istri,” kata ayah si gadis.

Kemudian ayahnya berunding. Sepertinya keluarga tersebut tidak setuju dengan Julaibib karena kondisinya. Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Dari balik tirai anaknya mendengar dan berkata kepada orang tuanya.

“Siapa yang meminta?” tanya si gadis.  Maka ayah dan ibunya mendekat kepada si gadis bahwa yang meminta adalah Rasulullah saw.

“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah saw. yang meminta, maka tiada akan membawa kehancuran dan kerugian bagiku,” ungkap si gadis sembari membaca ayat QS. Al-Ahzab: 36.

Mendengar hal itu Nabi dengan tertunduk. Kemudian berdoa untuk si gadis salihah itu,“Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Jangan kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah.”

Tak lama kemudian Allah karuniakan jalan keluar baginya. Kebersamaan Julaibib dengan tidak lama. Julaibib wafat dalam pertempuran dan menjadi syahid. Meski di dunia memperoleh istri solehah dan bertakwa, tapi bidadari telah merindukannya di surga.

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain