Perlu Pendekatan Digital untuk Pengelolaan Tata Ruang Kota-kota Islam Pesisir Jawa

sunan kudus

Pendekatan digital dan living heritage atau warisan hidup perlu digunakan untuk menyelamatkan tata ruang dan arsitektur kota-kota Islam, utamanya di pesisir pulau Jawa. Hal itu penting dilakukan karena banyak sekali yang telah tergerus oleh perubahan.

Hal itu dikatakan oleh  Guru Besar Teknik Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Diponegoro (UNDIP), Atik Suprapti saat Sidang Terbuka Senat Akademik Undip yang digelar secara luring dan daring dari Jumat 4 Juni 2021 lalu.

Dalam kesempatan tersebut Atik menawarkan konsep internet of things atau IoT untuk menyelamatkan tata ruang dan arsitektur banyak kota-kota Islam tersebut. Konsep ini nantinya akan memadukan pendekatan digital dan warisan hidup (living heritage) untuk menjaga keberlanjutan arsitektur dan kota Islam di pesisir utara Jawa tersebut. Atik mengatakan menyebutkan bahwa dirinya mencatat fenomena menarik setelah selama 20 tahun meneliti arsitektur dan kota Islam di Kawasan Pantura (Pantai Utara) Jawa. Banyak perubahan yang terjadi akibat urbanisasi, pergeseran peta politik dan ekonomi yang kemudian menjadi ancaman bagi keberlanjutannya. Paduan pendekatan digital dan warisan hidup bisa dijadikan sebagai jembatan antar waktu baik masa lalu masa kini serta masa yang akan datang.

Dikutip dari laman resmi tempo.co.id, konsep internet of things atau IoT penting dilakukan untuk mendukung pelestarian nilai-nilai lokal. Pemanfaatan WebGIS adalah salah satu upaya melindungi aset dan budaya belum banyak dimanfaatkan.

Ditambahkan oleh Atik bahwa PBB telah memberikan penghargaan Indonesia sebagai salah satu negara “super power” dengan sedikitnya 300 etnis keragaman kebudayaannya (cultural diversity) yang dimiliki. Salah satunya adalah arsitektur dan kota Islam yang menyebar di wilayah Pesisir Utara Jawa. Menurutnya kota di wilayah pesisir utara Jawa umumnya memiliki peninggalan budaya agama Islam seperti pola “Catur Sagatra” yang meliputi keraton, alun-alun, masjid, pasar, serta pemukiman di sekitarnya. Pada tata ruang kota Islam Jawa, peran dominan “pesantren-kyai-masjid”, serta aktivitas ekonomi rakyat di dekat pasar dan alun-alun merupakan efek dari living heritage.

Dalam perkembangannya, kota-kota dengan sejarah peninggalan Islam selain sebagai pemukiman juga berfungsi sebagai obyek wisata rohani. Karena itu, Atik berharap artefak dan arsitektur peninggalan sejarah tersebut bisa dilestarikan memakai teknologi informasi untuk keberlanjutan living heritage. Untuk melakukan konservasi tersebut, selain dengan memprioritaskan penggunaan IoT, pemerintah harus bekerjasama dengan dengan para pemilik bangunan, akademisi, sektor swasta, pengrajin kayu, serta lembaga non-pemerintah dan lain sebagainya.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain