Menelusuri Jejak Ulama Sunda di Timur Tengah

Jejak ulama Sunda bisa ditelusuri dari Indonesia hingga Mekah. Hal ini bisa dilihat dari dokumen silsilah para masyayih yang salah satunya dibuat oleh Ajengan Hilmi asal Baros Serang.

Hal itu dikatakan oleh pakar filolog Islam, Dr Ahmad Ginanjar Sya’ban dalam hasil penelitiannya. Dokumen ini menjadi penting karena masyarakat menjadi paham bahwa telah ada jaringan ulama Sunda dengan dunia Timur Tengah di masa lalu. Selain itu ada naskah Ajengan Hilmi, ada juga dokumen yang tidak kalah penting yakni kitab Al-Iqd Al-Farid min Jawahir Al-Asanid karya Syekh Yasin Padang-Makkah

 “Kitab ini berisi himpunan sanad ulama-ulama Nusantara,” ujarnya dalam Webinar daring bertemakan ‘Jejaring Ulama Jawa Barat: Sanad Kelimuan, Nilai Juang dan Semangat Ukhuwah Islamiyah’ . Menurutnya jejak jaringan ulama tatar Sunda dengan “Timur Tengah” pada awal abad ke-17, dibuktikan dalam beberapa arsip dan dokumen. Diantaranya adalah naskah fatwa tertua  Islam Nusantara yang ditulis Syekh ibn ‘Alan (ulama sentral Makkah) pada 1046 H/1636 M.  “Fatwa tersebut merespons atas permintaan Sultan Abu Mufakhir Abdul Qadir Banten. Kumpulan fatwa terbut bernama  al-Mawahib ar-Rabbaniyyah ‘an As’ilah al- Jawiyyah,” katanya.

“Pada masa awal hingga pertengahan abad ke-20 pun  tidak sedikit ulama asal Sunda yang berkiprah di Mekkah ”

Bukti lain adalah catatan dari  Snouck Hurgronje. “Catatannya menyebut ulama ulama asal Sunda. Dia membedakan antara Sunda Priyangan dengan Sunda Banten. Di antara ulama asal Banten adalah Syekh Nawawi Al-Bantani dan Syekh Abdul Karim. Sementara ulama asal Periangan yang disebut Snouck Hurgronje adalah Muhammad Garut, Hasan Mustapa Garut. Data ini dia dapat dari manuskrip Rd Aboe Bakar Djajadiningrat di Jedah pada 1887. Manuskrip ini yang memuat biografi para ulama Nusantara yang belajar di Makkah, termasuk dari Banten dan Periangan,” ujarnya.

Ahmad Ginanjar menyebutkan bahwa banyak tulisan-tulisan karya ulama Nusantara Khusunya ulama Sunda banyak yang diterbitkan di Timur Tengah yang dicetak di Kairo. “Pada masa awal hingga pertengahan abad ke-20 pun  tidak sedikit ulama asal Sunda yang berkiprah di Mekkah seperti Syekh Muhammad Akhyad asal Bogor (w 1952), Syekh Muhammad Sulaiman asal Sumedang (w 1959), Kyai Tb. Muhammad Falak, Muhammad Nuh asal Cianjur (w 1966), KH Ahmad Syathibi Gentur asal Cianjur (w 1947),  KH Ahmad Sanusi asal Sukabumi (w. 1950),  KH Abdul Halim Iskandar asal Majalengka (w 1962) kemudian dua tokoh terakhir ini mendirikan ormas PUI (Persatuan Umat Islam),”pungkasnya.

1 thought on “Menelusuri Jejak Ulama Sunda di Timur Tengah”

  1. Pingback: Kiai Hasan yang Selalu Digandeng Rasulullah saw » Pitutur ID

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain