Al Multaqa ad Dawliy lil Bahts ‘an Afkar at Thullab wa Dirasat Kembali Digelar

muktamad

Al Multaqa ad-Dawliy lil Bahts ‘an Afkar at Thullab wa-Dirasat Pesantren atau Mu’tamad digelar di Tangerang. Acara ini merupakan rangkaian dari Muktamar Pemikrian Santri Nusantara yang digelar secara rutin mulai tahun 2018.


Al Multaqa ad Dawliy lilBahts ‘an Afkar at Thullab wa Dirasat (Mu’tamad) atau Simposium Khazanah Pemikiran Santri dan Kajian Pesantren merupakan rangkaian peringatan hari Santri 2021. Mu’tamad digelar sebagai penyempurna dari Muktamar Pemikiran Santri Nusantara (MPSN) yang diselenggarakan secara rutin sejak tahun 2018.


“Kami berharap penyelenggaraan Mu’tamad 2021 ini mampu menjadi momentum lahirnya pergulatan pemikiran santri dan kajian pesantren yang reflektif dan implementatif bagi penyelesaian problem-problem sosial keagamaan masyarakat kita,” tutur Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani saat membuka acara.
Ramdhani menambahkan bahwa pesantren memberikan kostribusi dalam menyiapkan generasi emas dimasa mendatang. Hal ini didasarkan tiga ranah pendidikan pesantren yaitu pemahaman agama. akhlak dan kecakapan operasional.


“Tentu ini menjadi peluang bagi pesantren untuk melakukan percepatan pengembangan di berbagai bidang. Sehingga visi pesantren sebagai rujukan otoritatif kajian Islam dunia dan integrasinya dalam berbagai disiplin, mampu diwujudkan,” ungkap Ramdhani.


Selain fungsi pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat, lanjut Ramdhani, pesantren sesungguhnya telah lama mempraktikkan konsep dan aplikasi moderasi beragama. Moderasi beragama menjadi perhatian serius dan tagline yang digagas oleh Kementerian Agama RI, serta menjadi program prioritas yang terus dikembangkan. Bersama pemerintah, pesantren tentu tidak tinggal diam melihat ancaman penetrasi budaya kekerasan dan populisme agama.

Acara yang mempertemukan santri, mahasantri dan pegiat pesantren ini berlangsung di Tangerang Selatan, 13 – 15 Oktober 2021. Dalam kegiatan Al Multaqa ad Dawliy lil Bahts ‘an Afkar at Thullab wa Dirasat kali ini membahas tiga topik utama. Pertama, urgensi menetapkan standar pesantren dengan tetap mempertahankan praktik dan kekhasan masing-masing Pesantren. Kedua, pesantren adalah lembaga pendidikan yang tidak hanya berorientasi mencetak ulama sebagai sumber rujukan otoritatif dalam menyelesaikan problem keagamaan, tetapi juga menghasilkan para da’i dan pemberdaya masyarakat. Ketiga, perlunya memperkuat penelitian pesantren yang melahirkan gagasan keilmuan pesantren yang segar dan terbarukan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain