Ikhlas Dimata Para Sufi

Disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Malaikat Jibril. “Saya bertanya kepada Malaikat Jibril tentang apa itu ikhlas? Kemudian Malaikat Jibril berkata,” Saya bertanya kepada Allah SWT tentang ikhlas itu apa? Dan Allah SWT menjawab,” Ikhlas adalah rahasia dari rahasia Ku yang aku titipkan pada hati orang yang Ku cintai diantara hamba-hambaku.”

Imam al Qusyairi mengutip sebuah pendapat mengatakan bahwa ikhlas adalah penunggalan al Haqq dalam mengarahkan semua orientasi ketaatan. Dia dengan ketaatannya dimaksudkan untuk mendekatan diri kepada Allah SWT semata, tanpa yang lain, tanpa dibuat-buat, tanpa ditunjukkan untuk makhluk, tidak mencari pujian manusia atau makna-makna lain selain mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini bisa diartikan bahwa ikhlas merupakan penjernihan perbuatan dari campuran semua mahluk atau pemeliharaan sikap dari pengaruh-pengaruh pribadi.

Sedangkan Junaid Al Bagdadi mengatakan,” Ikhlas adalah rahasia Allah SWT dan hambanya. Tidak ada Malaikat yang mengetahui dan mencatatnya. Tidak ada setan yang mengetahui dan merusaknya. Dia tidak ada hawa nafsu yang mengetahui lalu menyondongkannya.”

Ikhlas menjadi bagian dari keimanan seseorang. Lantas bagaimana mengukurnya? Beberapa sufi memberikan jawaban tentang ukuran ikhlas. Berikut jawabannya :   

Dzun Nun al Misri berkata,” Ada tiga alamat yang menunjukkan keikhlasan seseorang, yaitu ketiadaan perbedaan antara pujian dan celaan, lupa memandang amal perbuatannya di dalam amal perbuatannya sendiri, dan lupa menuntut pahala atas amal perbuatannya di kampung akherat.”

 Abu Bakar ad Daqaq mengatakan bahwa kekurangan orang yang ikhlas dalam keikhlasannnya adalah kebiasaan melihat keikhlasannya. Jika Allah SWT menghendaki memurnikan keikhlasan seseorang, maka Dia menggugurkan penglihatan keikhlasannya ada keikhlasannya, sehingga ia menjadi orang yang diikhlaskan atau dimurnikan, bukan orang yang ikhlas atau berusaha menyucikan diri (yang pertama berarti obyek yang subyek, yang kedua subyek yang obyek)  

Abu Ustman al Magribi mengatakan,” Ikhlas adalah ketiadaan bagian atas sesuatu hal bagi dirinya. Ini adalah ikhlasnya orang kebanyakan. Sedangkan ikhlas orang-orang khusus adalah apa yang terjatuh atau terlimpah pada mereka, bukan yang bersama mereka. Karena itu, dari mereka muncul ketaatan yang mereka sendiri terpisah dari ketaatan itu sendiri. Mereka tidak memandang dan menghitung ketaatan yang terlimpahkan kepada diri mereka. Demikian itu merupakan ikhlas kelompok orang-orang khusus.”    

Sedangkan Hudazaifah al Marisi mengatakan bahwa ikhlas adalah penyamaan perbuatan hamba dalam aspek lahir dan batin.”

“ Ikhlas adalah pelupaan penglihatan makhluk dengan keabadian memandang Sang Maha Pencipta,” ungkap Abu Utsman al Hiri. ( Disadur dari buku Risalah Qusairiyah karya Abu Qasim Abdul Karim Hawazin al Qusyairi)

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

lailatul qodar

Empat Tanda Lailatul Qodar

Malam lailatul qodar adalah malam yang ditunggu kaum muslimin saat bulan Ramadhan tiba. Banyak keutamaan di malam mulia tersebut. Diantara keutamaan adalah diampuni dosanya yang