Tauhid Menurut Imam Ghazali

Imam Ghazali adalah salah sorang ahli tasawuf yang sampai sekarang karya-karyanya masih menjadi bahan rujukan. Salah satu karyanya yang monumental adalah kitab Ihya Ulumuddin. Kitab ini menjadi buku rujukan utama bagi orang yang ingin mempelajari tasawuf secara lebih mendalam.

Kitab Ihya Ulumuddin merupakan kitab yang paling komprehensif dalam perpaduan antara tasawuf dan fikih. Kitab ini berisi empat persoalan besar yaitu ibadah, etika sosial, al muhilat atau hal-hal yang bisa merusak diri dan al munjiyat atau hal-hal yang bisa menyelamatkan diri seseorang. Dalam seperempat bab terakhir Imam al Ghazali membahas tentang Tauhid.

Menurut Imam Ghazali, tauhid dalam empat tipologi yaitu: lub (lubuk hati yang terdalam), lub-lub (lubuk hati yang paling dalam), al Qasyir  ( kulit) dan qasyru al qasyri ( lapisan kulit permukaan).  Imam Al Ghazali mengatakan bahwa manusia yang hendak menuju Tuhannya harus melalui proses transformasi harus melewati keempat tingkatan itu. Jika keempatnya bisa dilalui maka seseorang dapat terbang menuju Tuhannya. Dalam istilah sufi hal ini disebut dengan mi’raj as sufi.

Mi’raj as sufi atau mi’raj ruhaniyah dalam bertauhid harus melalui empat langit spiritual.

Pertama, seseorang yang berkata dengan La illaha Illa Allah (Tiada Tuhan selain Allah) namun hatinya melalaikan dan melupakan Nya. Ini seperti orang munafik.

Kedua, seseorang yang meyakini kebenaran kalimat Laa illaha illa Allah seperti keyakinan umat muslim pada umumnya.

Ketiga, menyaksikan kebenaran pernyataan kalimat Laa Illaha Illa Allah dengan jalan kasyf dengan perantaraan al Haqq. Ini adalah tingkatan muqarrabin atau orang yang mendekatkan diri kepada Allah

Keempat, tidak melihat di dalam wujud kecuali hanya Allah SWT. Ini adalah persaksian para siddiqin dan dalam dunia sufisme dinamakan dengan fana dalam tauhid.

Dalam buku yang berjudul Kisah-kisah Ajaib Imam Ghazali karya Mukti Ali disebutkan bahwa, menurut Imam Ghazali pada tingkatan pertama seorang bertauhid hanya dengan lidahnya. Adapun tingkatan kedua adalah orang yang bertauhid dan meyakini di dalam hatinya dan memahami makna dari Laa illaaha illa Allah. Hatinya tidak ada keraguan sedikitpun dan kebohongan atas apa yang dia yakini. Sedangkan pada tingkatan ketiga orang yang bertauhid dibukakan dan digerakkan oleh Allah SWT. Ia tidak melihat apa-apa kecuali pada Yang Maha Esa. Dan tingkatan keempat adalah orang yang bertauhid dalam arti tidak menghadirkan persaksiannya kecuali Yang Maha Esa. Di tingkatan ini tidak melihat sesuatu yang majemuk bahkan ia melihatnya pada Yang Maha Esa. Ini adalah tauhid yang paling puncak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain