Riya’ menurut Imam Ghazali

riya

Riya’ adalah sikap sangat dibenci oleh agama. Riya menurut Imam Ghazali mempunyai beberapa macam. Hukum berperilaku riya adalah haram, dan wajib untuk dihindari. Bahkan ada yang menggolongkan riya’ sebagai syirik kecil.


Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad.

أَخْوَفُ مَااَخَافُ عَلَيْكُمُ الْشِّرْكُ الْاَ صْغَرُفُسُىِٔلَ عَنْهُ فَقَالَ الرِّيَاءُ

“Sesuatu yang sangat aku takutkan yang akan menimpa kamu ialah syirik kecil. Nabi SAW, ditanya tentang apa yang dimaksud syirik kecil itu, maka beliau menjawab yaitu riya.” (HR Ahmad)


Riya’ menurut Imam Ghazali dalam kitabnya yang berjudul Minhajul Abidin mengatakan bahwa perilaku riya’ adalah seseorang mengerjakan sesuatu tetapi hanya ingin memperoleh kemanfaatan dunia dengan jalan melakukan ibadah.


Imam al-Ghazali sendiri dalam buku Menuju Mukmin Sejati yang diterjemahkan oleh Abdullah bin Nuh mengatakan ada dua macam riya, yakni :


Pertama riya’ khusus yaitu riya’ yang hanya bertujuan untuk mencari keuntungan dunia saja tanpa diimbangi dengan tujuan akhirat. Riya’ khusus itu tidak dimiliki oleh orang-orang yang makrifat. Adapun menurut gurunya, al-Ghazali mengatakan, riya khusus itu tidak akan terjadi pada orang yang makrifat dalam keadaan sadar akan akhirat, tetapi terjadinya itu ketika dalam keadaan lengah.


Kedua, riya campuran. Riya’ jenis ini mempunyai tujuan dunia dan akhirat. Menurut Imam Ghazali riya’ campuran itu bisa menghilangkan seperempat bagian pahala.


Adapun di kitab lainnya al-Ghazali juga membagi riya’ menjadi dua jenis. Dalam buku Membersihkan Hati dari Akhlak yang Tercela yang diterjemahkan Ahmad Sunarto, Imam Ghazali menyebutkan dua macam riya’, yaitu :


Pertama riya’ yang jelas. Riya’ ini yang mendorong terwujudnya sesuatu amal perbuatan hingga ia merasakan kalau tidak adanya riya. tidak ada rasa kesenangan dalam melakukan amal perbuatan.


Kedua, riya samar. Riya’ jenis ini adalah yang tidak mampu untuk mewujudkan amal perbuatan tetapi ia merasakan kesenangan ketika melakukan amal perbuatan. Akibatnya orang yang memiliki riya’ yang semacam ini akan menjadi lemah semangatnya dalam melakukan amal tanpa adanya riya’ tersebut.

Wallahu A’lam bi Showab

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain