Pentingnya Hemat Air dalam Berwudhu

wudhu

Rasulullah SAW memberikan sebuah nasehat saat kita mengambil wudhu. Salah satunya adalah dengan hemat air dalam berwudhu.


Disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah bahwa Nabi Muhammad SAW melewati Sa’ad yang sedang berwudhu. Beliau berkata, “Pemborosan apa pula ini wahai Sa’ad?” Kemudian Sa’ad berkata, “Apakah ada pemborosan dalam penggunaan air?” Beliau bersabda, “Ya, meskipun kamu berada di atas sungai yang mengalir.”


Dalam buku berjudul Risalah Wudhu karya KH M Ihya Ulumuddin disebutkan bahwa Nabi sendiri dalam berwudhu menggunakan air satu mud atau kira-kira enam ons. Atau lebih kurang satu cakupan dua telapak tangan. Bahkan pernah hanya dengan empat ons. Alangkah hematnya.
Hemat air dalam berwudhu menjadi penting sekali. Bahkan kalau kita berlebih-lebihan dalam berwudhu dilarang keras dilakukan. Bahkan Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa di akhir zaman akan ada orang-orang yang kala berwudhu berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam menggunakan air. “ Sesungguhnya akan muncul dalam umat ini satu golongan yang melampaui batas dalam bersuci dan berdoa” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).


Untuk itu para ulama menyimpulkan bahwa agama melarang keras penggunaan air secara berlebihan dalam berwudhu. Bahkan boros air dalam berwudhu adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT (makruh).
Syekh M Nawawi Banten dalam Qûtul Habîbil Gharîb, Tausyih ‘ala Fathil Qaribil Mujib mengatakan, “Adapun hal-hal yang dimakruhkan dalam mengambil air sembahyang adalah berlebihan dalam menggunakan air, mendahulukan anggota tubuh kiri dibanding yang kanan, menambah lebih dari tiga basuhan secara yakin, mengurangi basuhan kurang dari tiga basuhan meskipun ragu…”


Bagaimana kalau kita berudu menggunakan kran. Berikut sebuah tips yang diberikan oleh Ustadz Ahmad Mundzir, Pengajar di Pesantren Raudhatul Qur’an an-Nasimiyyah, Kota Semarang seperti dilansir dari laman nu.or.id

  1. Orang yang berwudhu disunnahkan menghadap ke arah kiblat.
  2. Wudhu dilaksanakan di tempat yang airnya bisa mengalir lancar sehingga tidak menggenangi lokasi berwudhu.
    3.Usahakan cari tempat yang airnya tidak mudah menciprat ke tubuh dan lokasi sekitar. “Adapun adab wudhu ada delapan. Di antaranya adalah menghadap kiblat, berada di tempat yang airnya bisa mengalir dan tidak menciprat. (Syekh Ahmad bin Muhammad, Al-Lubab, [Madinah: Darul Bukhari, 1416 H], hlm. 68)
    4.Apabila memungkinkan, wudhu disunnahkan dengan duduk. Sebaiknya tidak duduk di atas toilet, sebab wudhu merupakan kegiatan ibadah kepada Allah, sedangkan toilet adalah tempat membuang kotoran.
  3. Posisi keran di depan orang wudhu bagian kiri. Menurut Sayyid Hasan Al-Kâf dalam kitab Al-Aham, memposisikan keran di sebelah kiri akan memudahkan orang yang berwudhu bisa menjalankan sunnah-sunnah wudhu yang lainnya. Contohnya ketika orang yang berwudhu ingin membersihkan kotoran yang ada di dalam hidung disunnahkan menggunakan tangan kiri, maka tangan kiri orang yang berwudhu sudah dekat dengan keran. Begitu pula ketika menyela jari-jari kaki, orang yang berwudhu dianjurkan menggunakan tangan kiri, keran di yang berada di sebelah kiri akan cukup memudahkan tangan kiri menyela jari kaki. Sedangkan apabila orang yang berwudhu menggunakan gayung, dianjurkan memposisikan bak wudhu di sebelah kanan supaya tangan kanan lebih mudah mengayuh gayung dari bak tersebut.
  4. Membuka tuas keran secukupnya. Bukalah tuas keran sesuai kebutuhan supaya tidak berlebihan dalam menggunakan air wudhu. Rasulullah SAW bersabda: Artinya: “Jangan berlebihan!” Lalu ada yang bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, apakah di dalam wudlu juga ada istilah berlebih-lebihan?”, Rasul bersabda “Iya, pada setiap hal, bisa saja ada berlebih-lebihannya” (HR. Al-Hakim dan Ibnu Asakir).
    Berlebihan atau israf dalam berwudlu banyak yang disebabkan karena was-was, sebuah perasaan tidak nyaman dan ragu apakah airnya sudah merata ke semua anggota wudhu atau belum. Orang was-was bisa membasuh angggota wudhu sampai mengulang berulang kali sehingga menjadi boros air. Was-was bisa timbul akibat bisikan jenis setan tertentu yang mempunyai tugas mengganggu orang dalam menggunakan air. Rasulullah SAW bersabda, “Dan dari Abi Sa’d berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dalam wudhu ada satu syaitan yang dinamakan ‘walhan’, maka takutlah kalian terhadap was-was dalam (menggunakan) air” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
  5. Membasuh bagian tangan dimulai dari siku. Dalam masalah ini, terdapat perbedaan pandangan antar ulama. Menurut Imam Ramli, saat berwudhu menggunakan keran, ketika membasuh kedua tangan, sebaiknya mendahulukan bagian siku terlebih dahulu, kemudian diakhiri basuhannya sampai telapak tangan. Berbeda apabila seseorang berwudhu dengan menggunakan gayung, Imam Ramli berpendapat, sebaiknya dimulai dari telapak tangan terlebih dahulu, kemudian diratakan sampai siku.
  6. Mengusap sebagian kepala dengan mengambil air dari keran. Tidak mengusap sebagian kepada dengan menggunakan sisa air yang menempel di tangan bekas basuhan tangan yang wajib.
  7. Membasuh kaki dimulai dari ujung jari. Saat membasuh kaki, bagi orang yang berwudhu dengan menggunakan kran, sebaiknya dimulai dari ujung jari, kemudian diratakan hingga tumit dan anggota kaki yang lain. Apabila menggunakan gayung atau bak air, sunnahnya adalah memulai basuhan dari tumit, kemudian diratakan ke area yang lain.
  8. Pastikan kesucian tuas keran. Jangan sampai menyentuh tuas keran dengan tangan yang terkena najis!. Jika tuas keran sampai tersentuh najis, tuas harus disucikan dengan cara dicuci tuasnya. Hal ini penting diperhatikan karena tuas yang najis dan tidak dicuci, lalu tersentuh dengan tangan, kemudian shalat, bisa mengakibatkan shalatnya tidak sah.

3 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain