Empat Tingkatan Tauhid dalam Tasawuf

Tauhid adalah landasan semua bentuk keilmuan dan praktek dalam ajaran Islam. Tak terkecuali ajaran dan ilmu tasawuf. Banyak para sufi memberikan tempat khusus dalam bab tauhid ini. Salah satunya adalah Abu Nasr As Saraj. Lewat karyanya yang berjudul al Luma, ulama ini mengatakan bahwa ada empat tingkatan tauhid.

Menurut Abu Nasr As Saraj dalam tasawuf ada empat tingkatan Tauhid yaitu tauhid orang awam, Tauhid orang syariat, tauhid orang khusus dan tauhid ahli makrifat.

Tingkatan pertama, tauhid orang awam. Pada tingkatan pertama adalah tauhid orang yang memiliki pengetahuan tentang Islam yang masih awam atau dasar atau orang yang baru masuk Islam. Tingkatan seperti ini dalam bertauhid cukup dengan mengesakan Tuhan (Laa Ilaha Illallah).  Adapun pencapaiannya adalah cara menghilangkan semua pandangan tentang Tuhan melainkan hanya Allah SWT.

Tingkatan kedua adalah tauhid orang-orang syariat, yaitu mereka yang ketaatanya utuh dari hamba kepada Allah SWT dalam ibadah kepada Tuhan dan hidupnya. Dalam tingkatan ini seorang muwahid dapat menjalankan segala amalnya didasari oleh rasa ikhlas karena Allah SWT. Sehingga saat menjalankannya tidak ada paksaan atau rasa terpaksa dan beban dalam melaksanakan ibadahnya.

Tingkatan ketiga yaitu tauhid orang khusus. Dalam tingkatan ini seorang muwahid berhasil menyesuaikan antara tindakan lahiriah dengan kondisi batiniah. Dari disinilah semua dimulai, awal dari keserasian yang sempurna, penyaksian akan Tuhan al Haq dengan mengamalkan hasil dari penyaksian kepada semua makhluk yang ada di alam semesta ini.

Tingkatan keempat adalah tauhid ahli makrifat. Tauhid ini dibangun dari kesadaran akan kehadiran-Nya.  Menurut Junaid Al Bagdadi, tauhid ahli marifat adalah kesadaran akan adanya ketidaktahuan ketika pengetahuan tentang Tuhan datang. Melalui pengertian ini, Junayd ingin menyatakan bahwa pada hakikatnya manusia itu berada pada ketidaktahuan tentang hakikat Tuhan. Dimana keadaan yang demikian ini akan disadarinya ketika datang makrifat kepadanya. Pada saat itu, dia akan mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal yang berkenaan dengan Tuhan yang sebelumnya tidak pernah diketahuinya. ( Disadur dari Jurnal Manthiq: Vol V Edisi II 2020)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain