Nasehat tentang Persahabatan dari Habib Abdullah Al Hadad

persahabatan

Bila Anda memilih sahabat hendaklah memperhatikan beberapa hal yang harus diketahui. Menurut Habib Abdullah al Hadad untuk menjalin persahabatan terlebih dahulu harus memperhatikan dan meneliti kepribadiannya sebelum memutuskan untuk menjadi teman sejawat.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menggambarkan dampak seorang teman sebagaimana sabdanya, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali berpesan, bila ingin memilih sahabat hendaklah memperhatikan lima perkara yaitu, akal pikiran, baik budi pekerti, lurus perjalanan, tidak terlampau menggantungkan kepada dunia semata dan tidak berkata dusta.

” Imam Al Ghazali berpesan, bila ingin memilih sahabat hendaklah memperhatikan lima perkara .”

Maka apabila kita mengambil keputusan untuk berteman dengan seseorang maka ada hak dan kewajiban dalam pergaulannya. Berikut adalah nasehat Habib Abdullah al Hadad tentang hak dan kewajiban persahabatan :

  1. Hendaklah Anda mengharapkan sesuatu yang baik baginya, sebagaimana Anda mengharapkan kebaikan itu bagi diri sendiri. Anda membenci sesuatu yang tidak baik baginya seperti Anda membencinya pada diri sendiri.
  2. Hendaklah Anda menyertakan dirinya dalam memikirkan dan mengurus urusan dunia, mengumpulkan manfaatnya, menunaikan segala keperluannya, dan ikut bergembira ketika ia gembira, dan ikut bersedih manakala ia bersedih.
  3. Hendaklah Anda berupaya menciptakan kegembiraan dalam hatinya dengan cara apapun.
  4. Hendaklah Anda menjaga namanya, baik di waktu ada maupun tidak ada.
  5. Hendaklah Anda berbakti kepada anak istri dan kaum kerabatnya di masa hidupnya dan khususnya sesudah ia meninggal dunia.
  6. Hendaklah Anda membantunya dengan tenaga dan harta manakala ia membutuhkannya. Lebih baik dan utama , jika Anda bisa mendahulukan kepentingannya  diatas kepentingan diri sendiri.

Itulah nasehat sebagaimana para ulama salaf dalam menjalani makna persahabatan. Para ulama dahulu mempraktekkan persahabatan sehingga ceritanya masyhur dimana-mana. Wallahu A’lam Bishowab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain