Pendapat Para Sufi tentang Sikap Sabar

Sikap Sabar adalah menjadi salah satu maqamatnya. Al Qur’an disebutkan bahwa diperintahkan kepada manusia untuk menjadikan bersikap sabar sebagai media untuk mendapat pertolongan Allah SWT ketika dalam kesulitan hidup.

Seperti di dalam Al Qur’an disebutkan,” Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar .(Q.S Al-Baqoroh 153),

Sabar berasal dari bahas Arab yang artinya menahan.  Sikap sabar dapat dimaknai dengan tahan menghadapi cobaan, tidak lekas marah, putus asa atau patah hati. Namun juga sering diartikan dengan bersikap tenang, baik pikiran maupun perasaan. Dan ada juga kata kesabaran yang berarti suatu keadaan atau suasana hati maupun pikiran dalam menghadapi cobaan.

“Perumpamaan orang sabar adalah seperti orang yang meneguk minuman pahit, akan tetapi dia tidak mengerutkan mukanya dan tidak memperlihatkan bahwa itu pahit.”

Dalam perspektif tasawuf, sikap sabar merupakan satu di antara stasiun atau  maqamat. Maqamat adalah jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Ada tujuh maqamat yang telah disepakati para ulama‟ yaitu al-taubah, alzuhud, al-wara‟, al-faqr, al-shabr, al-tawakkal, al-ridha. Di kalangan para sufi, sabar diartikan sabar menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Adapun sabar menurut para sufi adalah sebagai berikut:

1. Al-Junaid pernah ditanya tentang sabar. Dia menjawab: “Perumpamaan orang sabar adalah seperti orang yang meneguk minuman pahit, akan tetapi dia tidak mengerutkan mukanya dan tidak memperlihatkan bahwa itu pahit.

2. Dzunnun al-Mishri berkata: “Sabar adalah usaha untuk menjauhi segala larangan Allah. Sikap tenang dalam dalam menghadapi segala macam duka cita yang membelit. Menampakkan sikap lagaknya orang kaya pada waktu ia didera kefakiran dalam ranah kehidupan sehari-hari.”

3. Al-Ghazali mendefinisikan sabar. Merupakan suatu proses untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang penuh dengan nafsu syahwat, yang dihasilkan oleh suatu keadaan. Menurut Imam al-Ghazali, sabar adalah kedudukan dari kedudukan agama dan derajat dari derajat-derajat orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah.

4. Abu Muhammad Al Jariri mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sabar adalah tidak memisahkan antara ujian dan kenikmatan dengan pemikiran yang tenang. Sedang yang dimaksud penerimaan sabar adalah tenang menghadapi cobaan dengan mendapatkan ujian yang berat.

5. Amr bin Usman berkata, “Sabar adalah tetap bersama Allah SWT dan menerima cobaan Nya dengan lapang dada dan senang hati.

Itu beberapa pendapat para sufi mengenai sikap sabar. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bishowab.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain