Beginilah para Sufi Bertawakal

tawakal

Banyak pendapat tentang makna tawakal atau berserah diri kepada Allah SWT. Bagi orang sufi, bertawakal itu sangat penting arti dan maknanya dalam perjalanan ruhani.

Secara makna seorang pakar bahasa Arab al-Jurjani mendefinisikan tawakal dengan pengertian percaya sepenuhnya terhadap apa yang ada di sisi Allah dan memutus ketergantungan kepada apa yang ada di sisi manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tawakal diartikan sebagai berpasrah diri kepada Allah dan percaya sepenuh hati kepada Allah SWT.

Menurut Ibnu Qayyim al Jauziyah tawakal merupakan tempat persinggahan yang paling luas dan umum kebergantungannya kepada Asma’ul Husna. Tawakal mempunyai kebergantungan secara khusus dengan keumuman perbuatan dan sifat-sifat Allah. Semua sifat Allah dijadikan gantungan tawakal. Maka siapa yang lebih banyak ma’rifatnya tentang Allah, maka tawakalnya juga lebih kuat.

Dalam kita Risalah Qusyairiyah, Imam al Qusyairi menjelaskan beberapa ungkapan para sufi tentang dari tawakal. Salah satunya adalah ungkapan Abu Nashr As-Siraj Ath-Thusi. Menurut Abu Nasr ada beberapa syarat tawakal sebagaimana yang diungkapkan oleh Abu Turab AnNakhsyabi yaitu melepaskan anggota tubuh dalam penghambaan, menggantungkan hati dengan ketuhanan, dan bersikap merasa cukup. Apabila dia diberikan sesuatu, maka dia bersyukur, jika tidak maka dia bersabar.

Adapun Dzun Nun Al-Misri mengatakan bahwa yang dimaksud tawakal adalah meninggalkan hal-hal yang diatur oleh nafsu dan melepaskan diri dari daya upaya dan kekuatan. Dzun Nun menambahkan bahwa seorang hamba akan selalu memperkuat ketawakallannya apabila mengerti bahwa Allah Swt. selalu mengetahuinya dan melihat segala sesuatu.

Tentang tawakal ini Husin bin Mansur pernah bertanya kepada Ibrahim Al-Khawwash, “Apa yang telah engkau kerjakan dalam perjalanan dan meninggalkan padang pasir?” “Saya bertawakal dengan memperbaiki diriku sendiri.”

“Seorang hamba akan selalu memperkuat ketawakallannya apabila mengerti bahwa Allah Swt. selalu mengetahuinya dan melihat segala sesuatu.”

Selain itu Al-Kalabadzi dalam bukunya yang berjudul Ajaran Kaum Sufi memberikan penjelasan tentang tawakal dari beberapa ulama sufi sebagai berikut

  1. Sirri al-Saqti,” Tawakal adalah pelepasan dari kekuasaan dan kekuatan.”
  2. Ibn Masruq berkata, “Tawakal adalah kepasrahan kepada ketetapan takdir.”
  3. Sahl berkata”Kepercayaan berarti merasa tenang dihadapan Tuhan.”
  4. Abu Abdillah al-Qurasyi berkata: “Kepercayaan berarti meninggalkan setiap tempat berlindung kecuali Tuhan.”
  5. Al Junaid berkata: “Hakikat tawakal adalah, bahwa seseorang harus menjadi milik Tuhan dengan cara yang tidak pernah dialami sebelumnya, dan bahwa Tuhan harus menjadi miliknya dengan carayang tidak pernah dialami-Nya sebelumnya.”

Adapun menurut parar ilmu tasawuf, Imam Al-Ghazali memaknai tawakal sebagai pengendalian hati kepada Tuhan Yang Maha Pelindung karena segala sesuatu tidak keluar dari ilmu dan kekuasaan-Nya, sedangkan selain Allah tidak dapat membahayakan dan tidak dapat memberinya manfaat.

Itulah bertawakal menurut para sufi. Yang jelas tawakal tidak hanya berpasrah diri tetapi juga mempunyai makna yang lebih mendalam utamanya bagi perjalanan ruhani seseorang. Waallahu A’lam Bishowab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

iblis

Dialog Sufi dan Iblis

Dikisahkan Junaid Al Bagdad, serang sufi yang masyhur ini ingin bertemu Iblis. Hingga suatu hari akhirnya berjumpalah dengan makhluk laknatullah ini. Ada dialog menarik ketika

kulit kentang

Sepuluh Manfaat Kulit Kentang

Kentang dikenal sebagai umbi-umbian yang kaya manfaat untuk tubuh. Selain menyehatkan , rasanya juga enak ketika direbus atau digoreng. Namun ternyata kulit kentang juga mempunyai