Sikap Zuhud dan Berbagai Macamnya Menurut Sufi

zuhud

PITUTUR ID. Sikap zuhud adalah salah satu bagian penting dalam perjalanan ruhani seseorang. Para sufi menekankan sekali tentang zuhud ini dalam berbagai pandangan dan pemikirannya.


Dikisahkan suatu hari Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili r.a. menerangkan tentang zuhud dalam majelisnya. Kebetulan di dalam majelis itu seorang fakir yang berpakaian seadanya.

Ia kemudian berguman dalam hati, “Bagaimana mungkin Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. berbicara tentang zuhud sedang beliau sendiri pakaiannya bagus-bagus. Yang bisa dikatakan lebih zuhud adalah aku karena pakaianku jelek-jelek”.

Tiba-tiba Syekh Abu Hasan menoleh kepada fakir itu dan berkata, “Pakaianmu yang seperti itu adalah pakaian yang mengundang senang dunia karena dengan pakaian itu kamu merasa dipandang orang sebagai orang zuhud. Kalau pakaianku ini mengundang orang menamakanku orang kaya dan orang tidak menganggap aku sebagai orang zuhud, karena zuhud itu adalah maqam dan kedudukan yang tinggi”.

Orang fakir tadi kemudian berdiri dan berkata, “Demi Allah, memang hatiku berkata aku adalah orang yang zuhud. Aku sekarang minta ampun kepada Allah dan bertaubat”

Menurut beliau, sikap zuhud adalah meninggalkan dunia yang berlebihan akan menimbulkan hilangnya rasa syukur, dan berlebihan dalam memanfaatkan dunia akan membawa kepada kezaliman. Manusia sebaiknya menggunakan nikmat Allah SWT dengan sebaik-baiknya sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Sedangkan Ibnu Qayyim menyebut zuhud itu ada beberapa macam, yaitu:


a. Zuhud dalam hal yang haram, yang hukumnya fardhu ‘ain.
b. Zuhud dalam hal yang syubhat, tergantung kepada tingkatan-tingkatan syubhat. Apabila syubhat itu lebih kuat, ia lebih dicondongkan kepada hukum wajib, dan jika lemah, maka ia dicondongkan kepada sunnah.
c. Zuhud dalam hal-hal yang berlebih, zuhud dalam hal-hal yang tidak dibutuhkan, berupa perkataan, pertanyaan, pertemuan, zuhud di tengah manusia, zuhud terhadap diri sendiri, sehingga dia menganggap diri sendiri hina karena Allah SWT.
d. Zuhud yang menghimpun semua itu, yaitu zuhud dalam perkara selain Allah. Zuhud yang paling baik ialah menyembunyikan zuhud itu sendiri dan zuhud yang paling berat ialah zuhud dalam perkara yang menjadi bagian diri sendiri.

Itulah sekilas tentang sikap zuhud yang menjadi bahan perbincangan hingga sekarang. Namun para sufi telah mengimplementasikan sikap ini dalam kehidupan sehari-hari. Waallahu A’lam Bishowab

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain