Syeikh Arsyad dan Ikan Dalam Kelapa

Suatu hari Syeikh Arsyad Al Banjari ada di Batavia. Ulama asal Banjar ini diminta untuk membetulkan arah kiblat di tiga masjid besar kala itu yaitu Masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang, dan Masjid Pekojan.

Pembetulan itu kemudian menimbulkan kehebohan dan mengundang kontroversi di masyarakat.

Hal itu terdengar oleh Gubernur Hindia Belanda kala itu dan kemudian memanggil Syeikh Arsyad. Gubernur kemudian mengadakan pertemuan dengan tokoh masyarakat dan pemuka agama tentang pembetulan arah kiblat.

Namun ada suatu misi khusus dari gubernur Hindia Belanda yaitu ingin mempermalukan Syeikh Arsyad di depan umum.

Saat itu Gubernur sedang memegang kelapa muda dan menanyakan apa isinya. Syekh Arsyad menjawab isi kelapa itu air dan di dalam air itu ada ikan. Mendengar jawaban itu hadirin lalu tertawa karena dianggap tidak masuk akal.

Untuk membuktikannya, kelapa itu dibelah. Lalu memancarlah air. Setelah itu keluarlah ikan yang masih hidup dari dalamnya. Melihat kejadian itu yang hadir takjub dan berhenti tertawa.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, masyarakat sekitar Masjid Jembatan Lima menuliskan di atas batu dalam aksara arab melayu (tulisan jawi) yang bertuliskan bahwa kiblat masjid ini telah diputar ke kanan sekitar 25 derajat oleh Muhammad Arsyad Al-Banjari pada tanggal 4 Safar 1186 H.

Syekh Muhammad Arsyad lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710. Ulama fikih mazhab Syafi’i  berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan ini kesohor dengan salah satu karya monumentalnya yaitu Kitab Sabilal Muhtadin. Kitab ini  sampai sekarang menjadi rujukan bagi Asia Tenggara.

Muhammad Arsyad melewatkan masa kecil di desa kelahirannya. Namun kemudian mendapat pendidikan di lingkungan istana karena kepiawaiannya dalam melukis dan akhlaknya yang baik.

Saat umur 30 tahun menikah. Ketika istrinya hamil pertama, Syeikh Asryad pamit untuk melanjutkan pendidikannya ke Mekkah. Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad berguru kepada masyaikh terkemuka pada masa itu.

Tercatat beberapa ulama yang menjadi gurunya yaitu Syekh ‘Athaillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan al-‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani. Setelah puluhan menuntut ilmu di Mekkah dan Madinah, kemudian pulang ke Indonesia dan melakukan dakwah.

Diantara karya-karyanya adalah Kitab Sabilal Muhtadin, Kitab Sifat Duapuluh, Kitab Tuhfatur Raghibin, Kitab Nuqtatul Ajlan dan Kitabul Fara-idl dan lain sebagainya. Syaikh Arsyad wafat di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

lailatul qodar

Empat Tanda Lailatul Qodar

Malam lailatul qodar adalah malam yang ditunggu kaum muslimin saat bulan Ramadhan tiba. Banyak keutamaan di malam mulia tersebut. Diantara keutamaan adalah diampuni dosanya yang