Kiai Chudlori dan Dongeng Musyawarah Para Burung

Pada suatu malam setelah selesai mengaji Kiai Khudhori bertemu dengan murid kesayangannya Abdurahman Wahid. Saat itu Abdurhaman sedang asyik membaca sebuah buku. Sang kiai kemudian bertanya kepada muridnya itu,“Baca apa, Dur?”.

“Ini kiai, Muntiquth Thayr,” jawab Gus Dur sembari menunjukkan buku yang sedang ia baca.

 “Rapat manuk (burung), sopo seng nulis?”

“Iya kiai, Musyawarah Burung, karangan seorang sufi, Fariduddin Attar.”

“Apik tenan kuwi. Lha, bukunya mengaji tentang apa, Dur?”

“Ini kisah tentang burung-burung yang binggung, kiai,” jawab Gus Dur. Kiai Chudlori lalu minta  Gus Dur mengurai isi dari buku yang dibacanya,

“Dikisahkan, segala burung di dunia, yang dikenal atau tidak dikenal, datang berkumpul. Mereka sama-sama memiliki satu pertanyaan, siapakah raja mereka? Di antara mereka ada yang berkata, “Rasanya tak mungkin negeri dunia ini tidak memiliki raja. Maka rasanya mustahil bila kerajaan burung tanpa penguasa! Jadi, kita semua memiliki raja. Ya, raja!” 

“Dalam keadaan serbabingung, tampillah burung Hudhud. Ia mengatakan pada semua burung bahwa memang bangsa burung memiliki raja. Namanya Simurgh. Kalau bangsa burung hendak mengenal rajanya, mereka harus menempuh perjalanan yang sangat jauh dan berat menuju Simurgh”.

“Mereka mau, Dur?”

“Iya, kiai. Dipimpin Hudhud, mereka akhirnya mencari Simurgh”.

“Ketemu?”

“Tidak kiai. Setelah hanya tersisa kurang lebih 30 jenis, mereka akhirnya menemukan diri mereka sendiri”.

“Yo, yo…Mudeng aku”

“Inggih, kiai.”

Itulah sekelumit dialog antara Kiai Khudhori dan Abdurahman Wahid, muridnya yang kemudian dikenal dengan Gus Dur. Kiai Khudori adalah sebagian guru Gus Dur yang mempunyai ribuan murid. Kiai Khudhori dikenal sebagai pendiri Asrama Perguruan Islam Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah.  Santrinya sekarang mencapai puluhan ribu dan berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo didirikan pada tanggal 15 September 1944. Pada awal pendiriannya pesantren ini tidak mempunyai namam baru pada tahun 1947 Kiai Khudhori memberikan nama atas desakan sahabat  dantentunya merupakan hasil dari sholat istikharoh. Dengan nama Asrama Perguruan Islam diharapkan santrinya mampu dan mau menjadi guru yang mengajarkan dan mengembangkan syariat Islam di masyarakat.

Kiai Khudhori lahir di Tegalrejo. Ayahnya  seorang penghulu bernama Muhammad Ikhsan sedangkan ibunya Mujirah  putri lurah Kali Tengah, Magelang.  Kiai Khudhori merupakan anak kedua dari sepuluh bersaudara. Pendidikan umumnya ditempuh di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan tamat tahun 1923.  Setelah itu dikirim ke pesantren Kiai Siroj di Payaman Magelang. Ia menghabiskan waktu di pesantren tersebut selama 2 tahun. Setelah itu menuntut ilmu di pesantren Kuripan di bawah asuhan Kiai Abdan. Kemudian Pesantren Kiai Rahmat di Grabag menjadi tempatnya menuntut ilmu hingga tahun 1928.

Pesantren Tebuireng yang kala itu diasuh Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari menjadi tempatnya mencari ilmu. Di pesantren ini ia mempelajari beragam kitab. Kemudian pada tahun 1933, ia pindah lagi Bendo, Pare, Kediri, menjadi santri Kiai Chozin Muhajir. Dipesantren tersebut ia belajar fiqih dan tasawuf. Empat tahun berikutnya, ia mengaji di pesantren Sedayu, belajar ilmu membaca Al-Qur’an selama 7 bulan. Pada tahun 1937, menjadi santri di Lasem, Jawa Tengah, yang diasuh KH Ma’shum dan KH Baidlowi

Ada banyak kisah ketika Kiai Khudhori menempa diri di pesantren yang bisa dijadikan teladan. Disebutkan bahwa ketika di Tebuireng ayahnya selalau mengirim uang sebanyak Rp. 750,- per bulan. Namun karena riyadhonya kuat, ia  hanya menghabiskan Rp.150,- dan mengembalikan sisanya kepada orang tuanya. Khudlori kala itu hanya makan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut.

Kisah lain menyebutkan bahwa dalam kamarnya Khudhori membuat kotak belajar khusus dari papan tipis. Kotak tersebut ditempatkan  diantara loteng dan atap. Bila ingin menghafal atau memahami pelajarannya, Chudlori selalu naik dan duduk di atas kotak yang membahayakan itu sehingga bisa berkonsentrasi dengan baik. Bahkan Khudhori dia menghukum dirinya sendiri dengan berpuasa pada hari berikutnya tanpa makan sahur.

Kiai Chudlori wafat pada tanggal 28 Agustus 1977, dimakamkan di komplek makam keluarga Pesantren API Magelang dengan mewariskan ribuan murid dan teladan bagi umat Islam. (dari berbagai sumber)

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain