Kisah tentang Siti Rahmah dan Syekh Junaid al Batawi

Syekh Junaid adalah ulama tersohor di Masjidil Haram

Nama Siti Rahmah sempat menjadi populer di Arab Saudi . ”Siti Rahmah… Siti Rahmah, harga murah, homsah (lima) real,” kata mereka untuk menarik para pembeli wanita asal Indonesia. Begitu tulisan sejarawan dan wartawan senior Alwi Shahab tentang ibadah haji tahun 1900an.

Panggilan itu paling banyak diteriakkan para pedagang di Tanah Suci terhadap para jamaah perempuan Indonesia. Sebenarnya julukan itu muncul seabad lalu, tepatnya ketika orang-orang Indonesia dikenal sebagai salah satu poros keilmuan di Tanah Suci.

 Julukan Siti Rahmah tidak lepas dari ulama asal Betawi Syekh Juniad. Siti Rahmah adalah istri Syekh Junaid.  Bahkan saking besarnya pengaruh Syekh Junaid Al-Betawi di Mekkah konon panggilan “Siti Rohmah” oleh orang Arab untuk perempuan Indonesia yang berangkat haji terinspirasi dari nama istri Syekh Junaid ini

Pada awal abad ke-19 Syekh Junaid sangat kesohor di Makkah dan menjadi Imam di Masjidil Haram. Tidak hanya itu, beliau juga mengajar agama Islam di serambi masjid tersebut. Muridnya bukan hanya dari Nusantara, tapi juga umat Islam dari berbagai belahan dunia.

Tentang riwayat Syekh Junaid memang sangat minim referensi. Tahun kelahirannya memancing perdebatan ahli sejarah. Ada yang mengatakan lahir 1840 ada juga yang mengatakan 1834 seperti catatan Snouck Hurgronje.

Kepergian ke Mekkah tidak lepas dari Kampung Arab, Pekojan. Kala itu Belanda memberi kemudahan bagi penduduk yang tinggal di kampung Arab untuk mendapatkan jalan jika ingin bepergian ke luar. Saat itu Belanda menerapkan sistem passen stelsel dan wijken stelsel.

Syekh Junaid Al-Batawi merupakan ulama yang kaya akan ilmu. Sebab itulah beliau mendapat julukan Syaikhul Masyaikh yang memiliki arti guru dari segala guru. Para ulama Mazhab Syafi’I dari seluruh penjuru dunia belajar kepada Syekh Junaid Al-Batawi di Mekkah. Kedalaman ilmu yang dimiliki Syekh Junaid Al-Batawi membuat beliau dipercaya menjadi Imam besar Masjidil Haram.

Reputasi Syekh Junaid Al-Batawi sebagai ulama besar Mekkah tidak diragukan lagi. Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal di Nusantara. Diantara muridnya adalah Syekh Nawawi Al-Bantani (Banten) dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (Minang). “Muridnya banyak sekali. Bukan hanya para mukiman dari Indonesia, juga mancanegara. Nama Betawi menjadi termashur di tanah suci berkat Syekh kelahiran Pekojan, Jakarta Barat ini,” kata Alwi Shahab,

Buya Hamka pada sebuah acara “Diskusi Perkembangan Islam di Jakarta” tahun 1987 menyerbutkan besarnya pengaruh Syekh Junaid Al-Batawi di tanah Mekkah. Hal itu  terlihat ketika terjadi peralihan kekuasaan dari Syarif Ali ke Ibnu Saud. Kala itu Syarif Ali meminta kepada Ibnu Saud untuk tetap menghormati keluarga Syekh Junaid Al-Batawi beserta keturunannya. Ibnu Saud menerima permintaan ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain