Kurungan Jago untuk Mbah Maksum Lasem

Dikisahkan bahwa saat muda Mbah Maksum dikenal sebagai seorang pengembara dalam menuntut ilmu. Saat berusia 20-an tahun, beliau sudah berkeliling dari pesantren ke pesantren untuk mengaji. Hingga suatu hari Maksum ingin menjadi santri dari Kiai Kholil di Bangkalan, Madura.

Kiai Kholil dikenal sebagai pendidik santri yang unik. Setiap murid diberi pendidikan yang berbeda-beda. Demikian pula yang dialami oleh Kiai Maksum. Sebelum kedatangannya, Kiai Kholil memerintahkan beberapa santri membuat satu kurungan ayam jago. “Besok ada ayang jago dari tanah Jawa yang datang ke sini,” kata Kiai Kholil.  

Maka keesokan harinya datanglah Maksum muda untuk menjadi santrinya. Setelah bertemu dengan Kiai Kholil, maka Maksum muda kemudian dimasukkan ke kurungan ayam jago.  Maksum hanya bisa pasrah dan menuruti kehendak gurunya itu. Melihat hal tersebut para santri akhirnya tahu siapa sebenarnya yang dimaksud dengan jago dari tanah Jawa itu.

Selama pada Bangkalan, Kiai Kholil memerintahkan Maksum mengajar kitab Alfiyah selama 40 hari. Namun ada keanehan dalam proses pembelajaran yang diberikan Maksum pada santri lain. Maksum berada pada sebuah kamar tanpa lampu, sedangkan para santri berada pada luar. Maksum hanya belajar selama 3 bulan dengan Kiai Kholil. Ketika hendak pulang, Kiai Kholil memanggilnya dan didoakan menggunakan doa sapu jagad.

Itulah sekilas sosok KH Maksum atau Mbah Maksum Lasem. Nama sebenarnya adalah Muhammadun.  Beliau merupakan anak bungsu dari pasangan KH. Ahmad dan Qosimah yang lahir sekitar tahun 1868. Disebutkan bahwa Mbah Maksum masih punya hubungan darah dengan Sultan Minangkabau hingga bersambung kepada Rasulullah SAW.

Sejak kecil hidup dalam lingkungan pendidikan agama yang ketat. Ayahnya pernah menitipkan Mbah Maksum kepada KH. Nawawi, Jepara, untuk mempelajari ilmu agama. Pengembaraannya untuk menuntut ilmu tidak sebatas di Lasem saja. Tercatat Mbah maksum pernah berguru KH. Abdullah, KH. Abdul Salam, dan KH. Siroj di Kajen, KH. Ma’shum dan KH. Syarofudin di Kudus, KH. Umar Harun di Sarang Rembang, KH. Idris di Soli, KH. Dimyati di Termas, KH. Ridhwan di Semarang, KH. Hasyim Asy’ari di Jombang, hingga KH Mahfudz At-Turmusi Di mekah. .

Setelah selesai menuntut ilmu, Mbah Maksum ingin mendirikan pesantren. Disebutkan bahwa sebelum mendirikan pesantren, Mbah Maksum bermimpi bersalaman dengan Rasulullah Saw, dan setelah bangun tangannya masih berbau wangi. Mimpi itu berulang. Suatu saat beliau kembali bermimpi bertemu Nabi sedang membawa daftar sumbangan untuk pembangunan pesantren, dan berpesan kepada Mbah Maksum, “Mengajarlah … dan segala kebutuhanmu Insya Allah akan dipenuhi semuanya oleh Allah.”

Isyarat itu kemudian dikonsultasikan dengan KH. Hasyim Asy’ari. Pendiri NU itu mengatakan mimpi itu sudah jelas dan tak perlu lagi ditafsirkan. Mendengar saran dari gurunya Mbah Maksum meneguhkan hatinya untuk menetap di Lasem dan istikamah mengajar. Sebelum mendirikan pesantren, beliau berziarah dulu ke beberapa makam Wali Allah, seperti makam Habib Ahmad ibn Abdullah ibn Tholib Alatas, Sapuro, Pekalongan. Akhirnya pesantren kemudian berdiri hingga sekarang dengan ribuan murid.

Diantara santrinya adalah KH. Abdul Jalil Pasuruan, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Ahmad Saikhu Jakarta, KH. Bisri Mustofa Rembang dan KH. Fuad Hasyim Buntet Cirebon. Salah satu putranya menjadi ulama besar yaitu KH Ali Maksum Krapyak Yogyakarta. Kiai Maksum wafat pada 12 Ramadan 1392 H/ 20 Oktober 1972.

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

lailatul qodar

Empat Tanda Lailatul Qodar

Malam lailatul qodar adalah malam yang ditunggu kaum muslimin saat bulan Ramadhan tiba. Banyak keutamaan di malam mulia tersebut. Diantara keutamaan adalah diampuni dosanya yang