Kisah Gus Dur Tentang Kiai Pemburu Kitab

 “Di tahun lima puluhan, yang di panggil syekh adalah Kiai Masduki dari Lasem, karena penguasaannya atas buku teks (kitab) utama di bidang teori hukum, yaitu kitab Jam’ul Jawami. Tahun-tahun delapan puluhan ini rupanya sudah ada pengganti Syekh Masduki Lasem, yang sudah sekian tahun wafat. Dan dia itulah Kiai Mas’ud dari Kawunganten, Cilacap. Orangnya sederhana. Dalam pergaulan sangat bersikap rendah hati kepada orang lain, bahkan kepada yang lebih muda umurnya sekalipun. Suaranya tidak pernah dikeraskan. Penampilannya adalah penampilan kiai ‘kampung’ yang tidak ada ‘kegagahan’nya sedikit pun. Tetapi, di balik penampilan ‘biasa-biasa saja’ itu tersembunyi sesuatu yang tidak disangka-sangka: kekerasan hati untuk melakukan pengejaran, yang mungkin tidak akan pernah berhenti: mengejar buku-buku teks agama secara tradisional digunakan di pesantren, atau seharusnya diajarkan di dalamnya”

Itulah tulisan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, 1982 di sebuah majalah ibukota. Kiai Mas’ud Kawunganten atau yang kesohor dengan julukan Sekh Mas’ud ini lahir di Kawunganten Cilacap tahun 1926. Beliau putra dari pasangan Muhyidin-Sangadah. Ayahnya adalah seorang pendatang dari Purworejo Jawa Tengah yang menetap di Kawunganten sebagai petani sekaligus sebagai kiai di kampung tersebut.

Sejak usia dini pendidikan agama menjadi kesehariannya. Ketika umur 10 tahun Mas’ud muda dikirim ayahnya ke Desa Sarwadadi Kawunganten untuk belajar al-Qur’an kepada Kyai Hanafi. Kemudian melanjutkan belajar kepada Kiai Badrudddin di Mojosari, Kebumen mempelajari dan menghafal Kitab Alfiyah Ibn Malik. Setelah itu mengelana ke Jampes Kediri sebagai santri dari Syekh Ikhsan bin Dahlan. Tercatat pula pernah mengaji di di Pondok Pesantren Darul Hikam, Bendo, Pare.

Setelah rampung nyantri, Mas’ud muda pulang ke kampung halamannya tahun 1960-an. Satu tahun  menikah dengan Maysyaroh, putri KH. Suhaimi, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah, Benda, Sirampog, Brebes, Jawa Tengah dan dikarunia 5 orang anak.

Kapasitas kelimuwan Syekh Mas’ud diakui banyak intelektual maupun kiai. Diceritakan bahwa Syekh Yasin Padani, serang ulama masyhur dari Mekah mengakui kedalaman ilmu Syekh Mas’ud terutama pemahaman beliau dalam bidang ilmu fikih.

Syekh Mas’ud sering diajak musyawarah dan berkorespondensi untuk berdiskusi masalah fikih dengan Syekh Yasin dan juga ulama-ulama Timur Tengah lainnya. Bahkan Syekh Mas’ud sering mendapatkan kiriman kitab dari Syaikh Yasin dan juga dari Lembaga Keagamaan yang ada di Turki.

Hari Sabtu tanggal 5 Maret 1994 M atau bertepatan dengan tanggal 22 Ramadlan 1414 H, Syekh Mas’ud wafat dalam usia 68 tahun. Syekh Mas’ud dimakamkan di kompleks Pesantren Al Barokah  Kawunganten. (Dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

lailatul qodar

Empat Tanda Lailatul Qodar

Malam lailatul qodar adalah malam yang ditunggu kaum muslimin saat bulan Ramadhan tiba. Banyak keutamaan di malam mulia tersebut. Diantara keutamaan adalah diampuni dosanya yang