Makbulnya Doa yang Membuat Kiai Hanif Muslih Kabur

Kiai Hanif Muslih tidak hanya dikenal sebagai ulama pengasuh pesantren tetapi juga mursyid tarekat yang banyak keteladannya.

Pada tahun 2000-an ada sebuah peristiwa menakutkan di Demak. Kala itu beberapa orang terkena penyakit tercekik. Tidak seperti sakit lainnya, penderitanya tiba-tiba merasa tercekik. Hal yang aneh ini membuat orang mengaitkan dengan sesuatu yang gaib.

Ada seorang yang kemudian datang ke Kiai Hanif Muslih. Ulama yang satu ini sangat dikenal di daerah Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Maksud kedatangannya adalah untuk meminta doa agar penyakit tekeknya itu bisa segera sembuh.

Pada awalnya Kiai Hanif Muslih menolak dengan halus permintaan tamunya itu. Namun ia ngotot agar kiai Hanif mendoakan. Akhirnya permohonan itu dikabulkan oleh Kiai Hanif.

Selanjutnya tamu itu pulang. Tidak lama kemudian penyakit itu sembuh. Hingga akhirnya berita penyembuhan Kiai Hanif itu tersebar kemana-mana.

Tamu yang sowan bertambah banyak. Mereka datang untuk meminta doa pada kiai agar sembuh penyakitnya di dikabulkan hajatnya. Keadaan ini menjadikan Kiai Hanif merasa tidak nyaman. 

Beliau teringat pesan ayahnya, Kiai Muslih Abdurrahman, agar menjauhi praktik-praktik perdukunan. Untuk menghindarinya Kiai Hanif mensiasatinya dengan “kabur dari rumah.”

Meski demikian, selama beliau ada di rumah, para tamu yang minta doa tetap berdatangan. Akhirnya, untuk menyiasati hal itu Kiai Hanif Muslih “kabur” dari rumah.

Kiai Muslih pergi ke Jakarta bersama istrinya. Tindakan tersebut dilakukan semata-mata untuk menghindari pikiran masyarakat bahwa dirinya adalah seorang dukun bukan seorang kiai.

Padahal, kata Kiai Hanif Muslih, orang yang terkena penyakit tekek itu sembuh bukan karena doa atau air minum yang diberinya. “Itu yang menyembuhkan Allah dan kebetulan kok ya setelah meminum air itu,” ujar beliau. Cerita ini disadur dari tulisan Moh. Salapudin di laman futuhiyyah.online.

Kiai Muslih bernama lengkap Muhammad Hanif Muslih., L.c. Beliau lahir Desember 1955 di Mranggen dan merupakan anak keempat dari pasangan KH. Muslih Abdurrahman dan Nyai. Hj. Marfu’ah.

Ayahnya dikenal sebagai ulama thariqah dan pernah menduduki posisi rais ‘am di Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN), organisasinya para pengamal thariqah di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

Dididik dalam lingkungan pendidikan agama, Hanif kecil menghabiskan pendidikannya di madrasah pesantrennya. Saat remaja tepatnya kelas 3 Aliyah, Hanif pergi haji. Ia diajak oleh pamannya yang bernama Kiai Ridwan. Namun setelah selesai tidak kembali ke tanah air. Ayahnya memerintahkan menuntut ilmu di Mekah.  

Namun harus menunggu tahun ajaran baru berikutnya karena belum dimulai tahun ajaran baru. Untuk menghabiskan waktu luangnya, Hanif bekerja menjadi sekretaris di sebuah biro haji. Siangnya bekerja, malamnya mengaji Tafsir Ibnu Katsir di Babussalam, Masjidil Haram yang diasuh oleh Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.

Tahun 1976, Hanif mendaftarkan diri ke Universitas Madinah. Namun  almamaternya belum mu’adalah (disetarakan) di Saudi. Untuk itu ia harus mengulang sekolah lagi selama setahun di tingkat Aliyahdi  Madinah. Pada tahun 1977 akhirnya masuk Universitas Madinah.

Ada peristiwa unik saat masuk Universitas Madinah ini. Terdapat lima alumnus Pesantren Futuhiyyah lain yang diterima yang semuanya berasa dari Mranggen. Mereka bersepakat mengambil jurusan yang berbeda-beda.

Alasannya ketika kembali ke tanah air nanti akan bersama-sama memperkaya pesantren almamater dengan beragam disiplin keilmuan. Hanif sendiri kebagian jurusan Bahasa Arab, yang terus digelutinya hingga meraih gelar Lc.

“Ternyata, setelah pulang ke tanah air, semua teman-teman saya diambil menantu oleh para kiai dari berbagai daerah. Tinggal saya saja yang masih tinggal di Mranggen,” kenang KH. Hanif.

Kiai hanif Muslih tidak hanya dikenal sebagai pengasuh Pesantren Futhuhiyah, tepai juga mursyid tarekat Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah. Beliau  menikah dengan Hj Fashihah Ali.

Dari pernikahannya, Kiai Hanif dikaruniai seorang putri yang diberi nama Milla Hasna, dan tiga orang putra, yakni Ahmad Faizurrahman, Muhammad Husni Faruq, Muhammad Aufa Watsiq. Beliau wafat 10 Desember 2020 dengan meninggalkan banyak jasa dan teladan bagi umat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

lailatul qodar

Empat Tanda Lailatul Qodar

Malam lailatul qodar adalah malam yang ditunggu kaum muslimin saat bulan Ramadhan tiba. Banyak keutamaan di malam mulia tersebut. Diantara keutamaan adalah diampuni dosanya yang