Wali yang Dituduh Membuat Uang Palsu

syekh abdul wahab rokan

Dikisahkan Syekh Abdul Wahab Rokan dicurigai oleh Belanda. Pasalnya ulama Riau ini tidak pernah kekurangan uang. Beliau dituduh membuat uang palsu.


Pemerintah Belanda yang tidak senang dengan Syekh Abdul Wahab menuduhnya bersekongkol dengan seorang penjahat yang datang dari Serdang. Penjahat itu meminta perlindukan di kampungnya.

Belanda kemudian memerintahkan kepada Sultan Musa supaya segera memanggil Tuan Guru, untuk diperiksa. Fitnah itu sempat menimbulkan pergolakan antara Syekh Abdul Wahab Rokan dengan Kesultanan Langkat. Namun karena hubungan sudah akrab maka pergolakan kedua tidak berlangsung lama.

Usut punya usut, fitnah Belanda itu didasari ketidaksenangan Belanda terhadap pengaruh politik Syekh Abdul Wahab. Warga desa Besilam dikenal dengan sebutan Perkampungan Babussalam yang didirikannya sangat maju dan mempunyai pemerintahan yang baik. Bahkan Syekh Abdul Wahab Rokan sempat membuat Lembaga Permusyawaratan Rakyat dalam perkampungan tersebut.


Bagi Belanda hal ini akan mengganggu politik kolonialnya. Maka salah satunya adalah menghancurkan pengaruh Syekh Abdul Wahab dengan memfitnahnya membuat uang palsu. Namun hal itu tidak bisa dibuktikan. Bahkan pemerintah kolonial pernah meminta bantuan karena sumur minyaknya yang ada di daerah tersebut


Dikisahkan akibat fitnah itu Syekh Abdul Wahab pergi. Kepergiannya konon sumber-sumber minyak BPM Batavsche Petroleum Matschapij di Langkat menjadi kering. Tidak hanya itu ikan di lautan Langkat juga menghilang sehingga menimbulkan kecemasan para penguasa Langkat. Akhirnya Syekh Abdul Wahab dijemput dan diminta untuk kembali. Setelah di Babussalam, sumber minyak pun mengalir dan ikan-ikan bertambah banyak di lautan. Kaum


Syekh Abdul Wahab Rokan atau dikenal dengan sebutan Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi an-Naqsyabandi . Beliau dilahirkan 28 September 1811 di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Nagari Tinggi, Kabupaten Kampar, Riau.

Syekh Abdul Wahab dikenal sebagai ulama ahli fikih, seorang sufi, sekaligus mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Riau dan Sumatra pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Namanya sangat erat dengan pondok pesantren Babussalam Riau.


Syekh Abdul Wahab Rokan lahir dengan nama Abu Qosim. Beliau lahir dari keluarga bangsawan dam taat beragama. Nasabnya terhubung dengan sosok pahlawan bernama Tuanku Tambusai. Adapun ibunya masih keturunan kesultanan Langkat Sumatera Utara.


Syekh Abdul Wahab pertama kali mendapatkan pendidikan agama langsung dari ayahnya. Selanjutnya beliau berguru kepada Tuanku Muhammad Shaleh Tambusai dan Tuanku Haji Abdul Halim Tambusai. Setelah selesai belajar kepada Syekh Muhammad Yusuf di Semenanjung Melayu selama dua tahun.


Tahun 1863 meneruskan pendidikannya di Mekah sekaligus menunaikan ibadah haji, Selama enam tahun (1863-1869) ia bermukim dan belajar kepada ulama-ulama terkenal di Mekah. Di antara guru-guru Syekh Abdul Wahab ketika belajar di Mekah antara lain Syekh Saidi Syarif Dahlan, Syekh Hasbullah, Syekh Muhammad Yunus Abdurrahman Batu Bara, Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Abu Qubais, Mekah.

Lewat Syekh Sulaiman Zuhdi inilah yang kemudian memberi ijazah dan membaiat Syekh Abdul Wahab untuk mengamalkan dan menyiarkan Tarekat Naqsyabandiyah Bahan gurunya itu memberikan gelar Al-Khalidi An-Naqsyabandi.


Sekembalinya ke tanah air Syekh Abdul Wahab menjadi ulama yang disegani. Pada tahun 1879, Syeikh Abdul Wahab mendapatkan wakaf sebidang di wilayah Langkat dari Sultan Langkat, Sultan Musa al-Muazzam Syah.


Tahun 1883, Syeikh Abdul Wahab beserta para santrinya kemudian membangun sebuah perkampungan baru lengkap dengan masjid dan pesantren. Perkampungan berkembang dengan pesat dan diberi nama Kampung Babussalam. Masyarakat umum sering menyebutnya Bassilam atau Besilam. Syekh Abdul Wahab wafat 27 Desember 1926 di Besilam pada umur 115 tahun dengan banyak karya dan murid. Hingga sekarang jika acara khaulnya diadakan, puluhan ribu orang datang ke makamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

sandal

Memakai Sandal Menurut Islam

Memakai sandal ternyata mempunyai banyak manfaat. Tidak hanya dari segi kesehatan, namun juga dari sudut agama. Islam sendiri sangat menganjurkan memakai sandal. Bahkan Rasulullah saw