Pesawat Cocor Merah yang Jatuh oleh Bambu Runcing Mbah Subchi

kiai subchi

Pada masa perjuangan Mbah Subchi, atau kiai Subchi sangat dikenal perannya melahirkan bambu runcing sebagai senjata para pejuang. Bahkan ribuan pejuang berbondong-bondong ke Parakan agar bambu runcingnya mendapatkan doa kiai kharismatik ini.


Syahdan kemasyhuran kiai Subchi dan bambu runcingnya bermula dari menjelangmunculnya perang Ambarawa. Dari kisah yang beredar di kalangan mantan pejuang Hizbullah, tentang “karomah’ bambu runcing Kiai Subchi mulai terkenal saat menjelang pertempuran Ambarawa.


Dikisahkan seusai mengajar santrinya pagi hari, Kiai Subchi berdiri di tengah halaman sembari memegang sebilah granggang atau bambu yang ujungnya runcing. Pada saat yang sama di atas pesantren, melintas pesawat pengebom Belanda yang dijuluki cocor merah. Pesawat ini paling ditakuti pejuang pejuang kemerdekaan pada saat itu


Melihat hal itu Kiai Subchi kesal. Tiba-tiba saja beliau mengangkat bambu runcing yang dipegangnya seraya mengarahkan ujung runcingnya ke arah pesawat cocor merah itu. Hal aneh terjadi. Tiba-tiba setelah Kiai Subchi bertakbir bambu runcing diarahkan, pesawat itu tiba-tiba terlihat oleng. Pesawat pengebom itu kemudian menukik kencang ke arah bumi.

Semua santri yang melihat kejadian itu terkesima. Semenjak itu cerita tentang bambu runcing dan kesaktian kiai Subchi menyebar. Ribuan pejuang berbondong-bondong ke Parakan untuk memperoleh doa dari beliau.


Kiai Subchi mempunyai nama kecil Muhammad Benjing. Beliau merupakan putra dari KH Harun Ar-Rasyid seorang ulama terkemuka di daerah ParakanTemanggung. Kiai Subchi dilahirkan di Kauman Parakan pada tahun 1858 Masehi.


Namun menjelang dewasa namanya berubah menjadi R. Sumowardojo hingga nama Muhammad Benjing sudah tidak lagi digunakan. Baru setelah naik haji berganti nama menjadi KH Subchi.


Beberapa pesantren menjadi tempatnya mencari ilmu. Tercatat Kiai Subchi pernah belajar di Pondok Pesantren Punduh Magelang yang merupakan asuhan dari KH Maksum. Di pondok pesantren Punduh Magelang KH Subchi belajar selama kurang lebih dua tahun.


Setelah itu melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Somolangu Kebumen asuhan Syekh Abdurrahman. Di pesantren ini Kiai Subchi belajar cukup lama di pondok pesantren ini. Bahkan perah menjadi lurah pondok di pondok. Perjalanan pendidikan agamanya tidak hanya berhenti di Sumolangu saja, kemudian melanjutkan belajarnya di salah satu Pondok di Surabaya. Namun di pondok pesantren Surabaya tidak lama.


Kiai Subchi adalah sosok pejuang patut kita teladani. Samsul Munir Amin dalam bukunya yang berjudul Karomah Para Kyai menyebutkan bahwa pada usia 90 tahun KH Subchi masih ikut serta dalam perjuangan fisik kemerdekaan Republik Indonesia di Parakan Temanggung. Bahkan Kiai Subchi mempelopori berdirinya laskar Barisan Muslimin Temanggung (BMT)


KH Subchi wafat pada usia 101 tahun. Beliau wafat pada tanggal 6 April 1959 dan dimakamkan dipemakaman Sekuncen Desa Parakan Kauman, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

lailatul qodar

Empat Tanda Lailatul Qodar

Malam lailatul qodar adalah malam yang ditunggu kaum muslimin saat bulan Ramadhan tiba. Banyak keutamaan di malam mulia tersebut. Diantara keutamaan adalah diampuni dosanya yang