Suara Ayam Misterius saat KH Ahmad Syatibi Berziarah

KH Ahmad Saytibi

Mama Gentur atau KH Ahmad Syatibi adalah salah satu ulama kharismatik asal Cianjur, Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai empunya kitab Sirajul Munir yang kesohor itu. Pengasuh Pondok Pesantren Gentur Cianjur itu adalah guru besar ulama Jawa Barat.

Dikisahkan waktu mondok pesantren di Gudang, Mama Gentur pernah ziarah ke makam di Geger Manah. Sebelum berangkat ziarah Mama puasa selama empat puluh hari.Seelah bertemu dengan juru kunci Mama Gentur kemudian berziaran dan kembali esok paginya.

Kepada juru kunci, beliau bertanya, “Mang, malam tadi ada hujan ke sini gak?”

Jawab kuncen, “Ah, gak ada. Memangnya ada apa Ajengan?”

“Waktu saya di makam sedang ziarah tiba-tiba ada hujan yang besar sekali, petir menyambar-nyambar disertai angin yang sangat kencang. Saya melihat pohon kayu yang amat besar merunduk-runduk ke tanah seperti mau runtuh, tumbang,” kata Mama Gentur.

Kuncen bertanya, “Terus ada apa lagi?”

Jawab Mama Gentur, “Ah rahasia, saya tidak sanggup menceritakannya.”

Tepat di malam saat Mama gentur berziarah penduduk kampung mendengar suara ayam berkokok yang terdengar dengan sangat jelas. Padahal di kampung tersebut tidak ada yang punya ayam yang suaranya seperti itu. Warga kampung kaget dan paginya menyelidiki dari sumbernya suara baya itu. Setelah ditelisik bahwa suara ayam tersebut berasal dari bukit, di mana Mama Gentur melakukan ziarah.

KH. Ahmad Syathibi bin Muhammad Sa’id Al-Qonturi kerap disapa dengan Mama Gentur. Beliau lahir di Kampung Gentur, Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat. Beliau adalah anak ketiga dari pasangan Mama H. Muhammad Sa’id dan Ibu Hj. Siti Khodijah.

Gelar mama bagi masyarakat Sunda adalah kehormatan yang disematkan kepada ulama berpengetahuan tinggi yang menjadi gurunya para ulama. Kata mama adalah istilah bahasa Sunda yang berasal dari kata rama artinya bapak. Di kalangan masyarakat Jawa Barat, kata mama ini biasanya disematkan kepada Ajengan atau Kyai yang ilmunya tinggi, sehingga sebutannya menjadi mama ajengan atau mama kiai.

Diantara murid-muridnya adalah ulama-ulama besar seperti Beliau KH Zain Abdussomad , KH Abdullah Nuh Tanah Sareal Bogor, KH Hasbullah, Sukaraja-Sukabumi, KH Muhammad Syafi’i, Bandung,  KH Zainal ‘Alim Haur Koneng  dan lain sebagainya

Nama kecil beliau adalah Adun, setelah pulang dari Mekkah namanya diganti menjadi Dagustani. Namun, nama masyhurnya sekarang yaitu KH.  Ahmad Syathibi atau biasa disebut sebagai Mama Gentur kata orang Sunda yang jadi anak muridnya.

Mama Gentur atau KH Ahmad Syatibi memulai pendidikannya dengan belajar di Pesantren Keresek setelah mendapatkan bimbingan dari orang tuanya. Kemudian berguru ke Syekh Muhammad Adzro’i, Bojong, Garut. Hanya dalam waktu 40 hari mondok di Bojong beliau sudah hafal kitab Yaqulu (Nazom Maqsud, dalam ilmu shorof), Kailany (ilmu shorof), Amrithy (ilmu nahwu), Alfiyah (ilmu nahwu dan shorof), Samarqondy (ilmu bayan), dan Jauhar Maknun (ilmu ma’ani, bayan dan badi).  Kemudian belajar di Pesantren Gudang Tasikmalaya selama empat tahun. Setelah itu sempat juga belajar di Mekkah dan Mesir.  Kemudian Mama Gentur pulang ke Cianjur melanjutkan mengaji ke Syeikh Shoheh Bunikasih, kemudian mukim di Gentur.

Semasa hidupnya, Mama Gentur mengarang  kitab kurang lebih sekitar 80 kitab, berbahasa Arab dan Sunda diantaranya Sirojul Munir , Tahdidul ‘Ainain, Nadzom Sulamut Taufiq , Nadzom Muqadimah Samarqandiyah ,Fathiyah, Nadzom Dahlaniyah, Nadzom ‘Addudiyah, Nadzom Ajurumiyah , Muntijatu Lathif .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain