Kisah Dibalik Kiai Mahrus Menyuruh Wudhu Santrinya

kiai mahrus

Dikisahkan ada seorang santri Kiai Mahrus Ali yang sudah lulus dari pondok lama. Suatu malam santri tersebut dipanggilnya untuk datang ke rumah. Santri itu kemudian menyanggupinya. Namun kiai Mahrus heran setelah menunggu lama santri itu tak datang. Padahal rumahnya dekat. Namun sebelum berangkat, Kiai Mahrus telah menyuruh wudhu santrinya itu.

Telah ditunggu akhirnya santrinya itu datang . Kiai Mahrus bertanya “Kenapa kok lama, kecelakaan ya?”

Mendengar pertanyaan itu sang santri kaget dan menjawab,“Ya, Kiai”

“ Tapi selamat ya. Alhamdulillah?,” jawab kiai Mahrus

Kemudian kiai Mahrus berkata lagi “ Tampaknya perempuan tua di depanmu itu juga selamat,” terang  Kia Mahrus.

Santri itu pun semakin tertegun. memang dia dan erempuan tua di depannya yang selamat. penumpang ainnya banyak terluka. Ia berkata dalam hati, tampaknya kiai Mahrus sangat tahu persis apa yang sebenarnya terjadi.  Ia kemudian melanjutkan pertanyaannya“ kenapa kiai, perempuan tua tadi bisa selamat?”

“Kamu selamat karena sebelum berangkat terlebih dahulu berwudhu. Sedangkan perempuan tua itu selamat karena selama dalam perjalanan tidak pernah tinggal solawat,”jawab kiai Mahrus. .

Memang diceritakan bahwa Kiai Mahrus menyuruh santri tersebut berwudhu sebelu datang menemuinya. Dan santri itu melaksanakan amanah yang diberikan kiainya itu.  Itulah kisah Kiai Mahrus menyuruh wudhu santrinya sehingga ia selamat dari kecelakaan.

Sosok kiai Mahrus adalah sosok pendidik, ulama mumpuni dan pencari ilmu yang gigih. Kiai Mahrus Aly dilahirkan di dusun Gedongan, Astanajapura, Cirebon pada tahun 1906. Beliau merupakan anak bungsu dari pasangan KH. Aly bin Abdul Aziz dengan Hasinah binti KH. Sa’id. Hidup di lingkungan pesantren membuatnya tidak lepas dari pendidikan agama. Semenjak dini beliau sah belajar di pesantren yang diasuh oleh ayahnya sendiri.

Pada saat berumur 18 tahun Mahrus muda melanjutkan nyantrinya di Pesantren Panggung, Tegal, Jawa Tengah yang diasuh KH. Mukhlas dan tak lain adalah kakak iparnya sendiri. Selain mengaji, Kiai Mahrus tercatat pernah pula juga belajar silat pada KH. Balya, ulama adalah Tegal Gubug, Cirebon yang dikenal sebagai jawara.

Saat mendalami ilmu agama di Tegal, beliau menunaikan ibadah haji pada tahun 1927. Selanjutnya menjadi santri di Pesantren Kasingan, Rembang, Jawa Tengah asuhan KH. Cholil pada  tahun 1929 M. Ada sekitar 5 tahun menuntut ilmu di pesantren tersebut. Pada tahun 1936 kemudian  pindai ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Karena kedalaman dan keluasan ilmunya, Mahrus Aly justru diangkat menjadi pengurus pondok dan ikut membantu mengajar di Lirboyo. Sebagai orang yang gigih dalam mencari ilmu, jika ada waktu libur maka digunakan gunakan untuk tabarukan dan mengaji di pesantren lain, seperti Pondok Pesantren Tebuireng, Pondok Pesantren Watucongol, Muntilan Magelang Pesantren Langitan, Tuban, Pesantren Sarang dan lain sebagainya.

Jasa KH. Mahrus Aly sangat besar bagi NU. Beliau pernah menjadi Rois Syuriyah NU Jawa Timur selama hampir 27 Tahun, hingga akhirnya diangkat menjadi anggota Mustasyar PBNU pada tahun 1985 M. Kiai Mahrus wafat pada 26 Mei 1985 M, diusia 78 tahun. (Dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

nyadran

Tradisi Menyambut Ramadhan

Di Indonesia menjelang Ramadhan mempunyai banyak tradisi. Sebagai penduduk Islam yang banyak, bulan suci ini sangatlah di tunggu-tunggu. Tradisi menyambut Ramadhan bahan menjadi acara tahunan