Syekh Yasin al Fadani dan Santrinya yang Iseng

Ini kisah tentang Syekh Yasin al Fadani seorang ulama masyhur Mekah dan santrinya yang iseng Cerita ini adalah tentang santri yang ingin mengetahui kewalian gurunya. Kisah ini datang dari Kiai Zakwan Abdul Hamid yang mengenang sosok gurunya itu.

Suatu hari Zakwan ingin sekali menguji kebenaran tentang kewalian syekh Yasin al Fadani. Ulama asal Padang itu memang sangat populer di Mekkah. Muridnya banyak dan datang dari berbagai penjuru. Peritiwa ini bermula di kediaman Syekh Yasin. Saat itu bertepatan dengan hari Jumat dimana gurunya itu sering melaksanakan sholat Jumat di masjid terdekat tidak di Masjidil Haram.

Dasar usil, Zakwan punya niat iseng agar Syekh Yasin terlambat sholat Jumat. Diajaklah Syekh yasin ngobrol ngalor ngidul hingga akhirnya mengabaikan kumandang adzan tanda Jumatan sudah dimulai. Teman Zakwan sengaja mengulur waktu hingga khutbah kedua. Zakwan dan temannya kemuduan pergi ke masjid sambil berlari. Mereka berfikir Syekh Yasin tidak mungkin sholat Jumat, karena jarak ke masjid agak jauh.  Apalagi kalau Syekh Yasin sholat ke Masjidil Haram tentu tidak mungkin karena rumahnya berjarak sangat jauh. Sedangkan semua mobil pengantar susdah berangkat.

Akhirnya Zakwan dan temannya bisa sholat Jumat sambil berfikir bahwa syekh Yasin tidak jumatan. Mereka kemudian sampai di rumah dan bertemu dengan gurunya.  Saat berjumpa, wajah Syekh Yasin tampak gembira bahkan tidak merasa bersalah tertinggal sholat Jumat. Kedua santrinya itu menjadi tertawa geli. 

Sejurus kemudian, Syekh Yasin memanggil Zakwan dan berkata,” Tolong siapkan teh ada tamu yang mau datang.”

“ Bagaimana Syekh Yasin bisa tahu ada tamu yang mau datang kerumahnya,” batin Zakwan Namun tanpa pikir panjang ia segera menyiapkan apa yang menjadi dawuh gurunya itu.

Sejenak kemudian datanglah dua orang Arab. Mereka kemudian diperilahkan duduk dan menyantap hidangan yang disuguhkan. Kemudian Zakwan mendengar bahwa salah seorang dari tamu itu mengatakan bahwa setelah sholat Jumat di Masjidil Haram  ada satu hadis yang belum diijazahkan oleh Syekh Yasin. Sedangkan yang satunya Syekh Yasin berjanji akan mengijazahkan semuan di rumah.  

Mendengar kedua tamu itu berdialog dengan Seykh Yasin al Fadani, Zakwan kaget, Ia bertanya-tanya dalam dirinya, ” Jumatan di Masjidil Haram? Bukankah tadi Syekh Yasin tidak berangkat sholat Jum’at? Rasanya tidak mungkin Syaikh Yasin bisa menjangkau Masjidil Haram jika di Utaibiyyah saja khutbah sudah masuk sesi kedua?”

Tidak lama kemudian Syekh Yasin masuk ke kamarnya, Zakwan kemudian memberanikan diri bertanya kepada kedua tamu gurunya itu. “ Apa benar kalian berdua tadi bertemu Syekh di Masjidil Haram?”

Salah satu dari mereka kemudian menjawab, ” Betul, tadi kami melihat beliau duduk bersandar di tiang dekat Babul Shofā.”  Setelah mendengar penjelasan tersebut, Zakwan yakin bahwa gurunya merupakan seorang waliyullah.  

Syekh Yasin Al-Fadani bernama lengkap lengkap ‘Alam Al-Din Abu Fayd Muhammad Yasin bin Muhammad Isa bin Udik Al-Fadani Al-Makki Al-Ayafi’i. Di lahirkan 27 Sya’ban 1337 H atau 1917 M di Hayyi Misfalah, Makkah Al-Mukkarramah. Masa kecilnya dihabiskan belajar pada Syeikh Isa Al-Fadani dan Nyai Maimunah binti Abdullah yang tak lain adalah kedua orang tuana sendiri.

Saat usia 12 tahun mulai belajar di Madrasah Shaulathiyyah selama enam tahun. Iantara gurunya di madrasah tersebut adalagh Sayyid Muhsin Al-Musawwa, Syekh Mukhtar Utsman Makhdum, Syekh Abdullah Muhammad Niar dan Syekh Muhammad Hasan Al-Masysyath.

Beliau juga menimba ilmu di Masjidil Haram, madrasah Al-Falah, dan banyak lagi. Pada tahun 1934 Syekh Yasin mendirikan madrasah Dar Al-Uluum ad-Diiniyyah. Banyak pelajar Madrasah Shaulathiyyah pindah ke madrasah Dar Al-Uluum ad-Diiniyyah.

Sebagi ulama selain mengajar beliau juga mempunyai banyak karya tulis. Ada kitab ilmu hadits, 15 buku ilmu dan usul fiqih, 36 buku ilmu falak, dan masih banyak buku-buku lainnya.  Pada 1990, Syekh Yasin Al-Fadani meninggal di Makkah dan dimakamkan di  pemakaman Ma’la.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

sandal

Memakai Sandal Menurut Islam

Memakai sandal ternyata mempunyai banyak manfaat. Tidak hanya dari segi kesehatan, namun juga dari sudut agama. Islam sendiri sangat menganjurkan memakai sandal. Bahkan Rasulullah saw