Slogan Nasionalisnya Mbah Lim

mbah lim

Kalau dulu Merdeka atau Mati menjadi penyemangat perjuangan merebut kemerdekaan. Namun sekarang slogan itu berubah menjadi NKRI Harga Mati. Namun tahukah, bahwa mula slogan NKRI Harga Mati datang dari seorang ulama?

Banyak fakta yang menyebut bahwa slogan ini adalah dipopulerkan oleh Mbah Liem.  Ulama yang bernama KH Muslim Rifai Imam ini dalam sebuah pidatonya mengatakan begini “mugo-mugo NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati” (Semoga NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati).

Tidak hanya itu pernah dalam salah satu doanya menyebut NKRI harga mati ini.”Subhanaka Allahumma wabihamdika tabaroka ismuka wa ta’ala jadduka laa ilaha Ghoiruka. “Duh Gusti Alloh Pangeran kulo, kulo sedoyo mbenjang akhir dewoso dadosno lare ingkang sholeh, maslahah, manfaat dunyo akherat bekti wong tuo, agomo, bongso maedahe tonggo biso nggowo becik ing deso, soho NEGORO KESATUAN REPUBLIK INDONESIA PANCASILA KAPARINGAN AMAN, MAKMUR, DAMAI. Poro pengacau agomo lan poro koruptor kaparingono sadar-sadar, Sumberejo wangi berkah ma’muman Mekah,” demikian salah satu bunyi doanya.

Jargon ini menjadi dikenal luas ketika Panglima TNI Jenderal Benny Moerdani kala itu bertemu Mbah Lim di pesantrennya. Ulama nyentrik in kemudian imeneriakkan yel, NKRI Harga Mati…! NKRI Harga Mati…! NKRI Harga Mati…! Pancasila Jaya. Maka semenjak itu yel-yel NKRI Harga Mati menjadi slogan, tidak hanya di NU tapi di beberapa pihak seperti di TNI.

Mbah Liem dilahirkan di Desa Pengging, Kelurahan Bendan, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah. Sampai kini belum ada yang tahu persis tanggal atau tahun lahirnya. Beliau putra pasangan R Bakri, dan RAY Mursilah. Melalui jalur ibu, Mbah Lim tersambung nasabnya dengan Sunan Paku Buwono IV (Sunan Bagus, memerintah tahun 1788-1820) Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Adapun nama Imampuro diambil dari kakeknya yang bernama RMNg Imampuro.

Tercatat Mbah Lim pernah belajar di PGA Mambaul Ulum Surakarta. Namun ia memilih keluar dari tersebut karena oleh salah satu gurunya tidak cocok karena bicaranya gagap dan sulit dipahami. Setelah itu Mbah Lim berkelana dari pesantran ke pesantren mulai Banten, Cirebon, hingga Madura. Uniknya dirinya tidak mau disebut pernah nyatri atau mondok. dengan istilah nyantri atau mondok. Pada tahun 1972, Mbah Lim mendirikan pondok pesantren dengan nama Al -Muttaqien Pancasila Sakti.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain