Kiai Mutamakin dan Dua Ekor Anjing

mbah mutamakin

Mbah Mutamakin atau kiai ­­Mutamakin mempunyai kisah unik tentang dua ekor anjingnya. Kedua hewan peliharaannya itu diberi nama seperti manusia yaitu Abdul Qohar dan Qomaruddin. Hal nyleneh ini yang membuat kiai Masyhur asal Pati ini kerap dituduh sesat.

Kisah dua anjing dimulai ketika Kiai Mutamakin melakukan riyadhoh. Ritual  melatih jiwa dan raga dari kungkungan hawa nafsu yang dilakukannya selama 40 hari. Pada hari terakhir, istrinya disuruh untuk memasak makanan yang paling enak. Setelah istrinya memasak pesanan Kiai Mutamakin, makanan tersebut tidak disantapnya. Namun yang terjadi Kiai Mutamakin menyuruh istrinya mengikat kedua tangan  nya di tiang rumah dengan saat erat.

Dari situlah muncul peristiwa aneh. Tiba-tiba dari tubuh Mutamakin keluar dua ekor anjing sebagai jelmaan dari nafsunya. Ada juga yang mengatakan keluar seekor singa. Setelah keluar kedua anjing itu ingin masuk lagi ke raga kiai Mutamakin, namun tak bisa. Inilah sebuah peristiwa yang syarat makna bahwa manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsu itu seperti seekor anjing.

Kiai Mutamakin adalah ulama yang mumpuni dan mempunyai banyak murid. Anak didik nya banyak menjadi ulama dan meneruskan perjuangannya menyebarkan Islam. Tak salah kalau makamnya hingga saat ini tidak pernah sepi dari para peziarah. Makannya berada di desa Kajen sering diziarahi kaum muslimin. Diperkirakan ulama besar yang hidup pada abad ke-17 yang lahir pada tahun 1645 M di desa Cebolek, Tuban Jawa Timur.

Nama nama aslinya Sumohadiwijaya. Beliau seorang ningrat keturunan ningrat baik dari garis ayahnya maupun ibunya. Sejak kecil dikenal sudah gemar membaca Al Qur’an. Saat remaja pergi menuntut  ilmu hingga ke Yaman. Saat nyantri di Syekh Muhammad Zayn al Mizjaji, Yaman beliau diberi gelar gurunya “Al-Mutamakkin” yang artinya orang yang meneguhkan hati atau diyakini akan kesuciannya.

Setelah pulang ke Nusantara, Mbah Mutamakin yang tinggal di Desa Cebolek dan kemudian pindah ke des, Kajen. Di desa inilah mendirikan sebuah pondok pesantren yang kelahi menjadi besar. Beliau juga menggantikan kiai Kajen yaitu Haji Syamsuddin. . Para santrinya banyak yang menjadi ulama antara lain  Kiai Mizan, Kiai Raden Saleh, Kiai Raden Ronggokusumo, Kiai Raden Endro Muhammad bin Syeikh Mutamakkin, Kyai Bagus bin Syeikh Mutamakkin dan lain sebagainya.  Wallahu A’lam Bishowab (Dari berbagai sumber)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain