Kitab Belut Syekh Mukhtar

Sebuah kitab As-Shawaiq al-Muhriqah li al-Awham al-Kadzibah fi Bayan Hal al-Balut wa ar-Raddu ala Man Harramah karya membahas tentang belut. Karya ini berangkat dari perdebatan yang muncul di kalangan ulama Nusantara, menyikapi persoalan ini.  Kitab tersebut merupakan buak karya dari Guru Mukhtar atau Syekh Mukhtar al Bughury. 

Perdebatan tentang belut ramai padaabad ke-19. Diskusi panjang terjadi antara para ulama yang ada di Makkah dan ulama di tanah air. Perdebatan itu dilakukan dengan korespendonesi surat. Syekh Mukhtar termasuk ulama yang membolehkan makan belut dengan alasan memaparkan pandangan bahwa belut itu mirip al-Jirits, yaitu jenis ikan yang dikenal di masyarakat Arab.  Menurut Imam al-Baghawi, ikan tersebut halal hukumnya sesuai dengan pendapat para sahabat seperti  Abu Bakar, Umar bin Khatab, Ibnu Abbas, dan Yazid bin Tsabit, serta Abu Hurairah. Imam syafiie juga berpandangan Imam Malik dan Imam Syafi’i . Kitab tentang belut ini menjadi rujukan ulama dunia.

Syeikh Mukhtar Al-Bughury berasal Sukaraja, Kabupaten Bogor, yang yang mendunia. Karya-karyanya monumental. Salah satunya kitab yang disebutkan di atas.  Namanya termasuk dalam tujuh ulama terkemuka dunia dari total 130 orang ulama asal Nusantara paling produktif di bidang riwayat hadits.

Orang Bogor menyebutnya “Guru Mukhtar”.  beliau  lahir di Bogor, pada tanggal 14 Februari, 1862 M, bertepatan dengan 14 Sya’ban 1278 H. Ia wafat di Mekkah, dan dimakamkan di Jannatul Ma’la, pada 13 Juli 1930 M/ 17 Safar 1349 H.  Beliua dikenal sebagai seorang yang sangat rajin belajar, mengajar, membaca dan beramal soleh. Beliau merupakan ulama yang masyhur di Mekah. Dalam mengajar dilakukan di Masjidil Haram dan di rumahnya. Di Masjidil Haram Syekh Mukhtar mengajar dari Maghrib hingga Isya.  Ada 400 murid yang pelajar pada beliau. Sedangkan habis subuh ulama yang berjuluk Syekh Attharid mengajar di rumahnya.

Ulama-ulama yang pernah mengajar Syekh Mukhtar Bogor, yang bersanad, yaitu Sayyid Muhammad Amin bin Sayyid Ahmad ar-Ridhwan al-Madani, Sayyid Abu Bakri Syatha dan saudaranya Sayyid Umar Syatha, Sayyid Abdul Karim an-Naji ad-Daryandi, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Syeikh Mushthafa Afifi dan Syeikh Muhammad Zainuddin al-Jawi as-Sumbawi.

“Syeikh Mukhtar Al-Bughury berasal Sukaraja, Kabupaten Bogor, yang yang mendunia. Karya-karyanya monumental. Salah satunya kitab yang disebutkan di atas.  Namanya termasuk dalam tujuh ulama terkemuka dunia dari total 130 orang ulama asal Nusantara paling produktif di bidang riwayat hadits.”

Sedangkan murid-murid Syaikh Mukhtar Bogor yang menjadi ulama besar diantaranya adalah Haji Abdullah Fahim, Mufti Pulau Pinang, Tengku Mahmud Zuhdi, Syaikh al-Islam Selangor, Sayyid Muhsin bin Ali al-Masawi, Kiai Ahmad Dimyathi bin Abdullah at-Tarmasi, Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Manshur bin Abdur Rahman Bogor al-Batawi, Sayyid Muhammad Ahyad bin Idris Bogor, Syaikh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani (Padang), Tuan Guru Haji Muhammad Zain bin Tama Kajang dan lain-lain.

Berikut adalah karya-karya Syekh Mukhtar al Bughury yaitu Taqrib al-Maqshad fi Al-Amali bi al-Rub’ al-Mujaiyab (1890), Ushuluddin (1905), Wahbah al-Ilahiyah (1909), As-Shawa’iq al-Muhriqah lil Auhamil Kazibah (hukum makan Belut), 1911,  Ithaf as-Sadat al-Muhaddisin bi Musalsal al-Ahadis al-Arba’in (1925),  Ad-Durr al-Munif fi Syarh Wird al-Lathif (1912), Mukhtashar ad-Durr al-Munif, Risalah Hadis ‘Athaqah Kubra (1912), Manasik al-Hajj, Risalah Segala Jawab Mufti Makkah (1922), Muhimmat al-Wasail fi Jam’ al-Masail, ‘Aqaid Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah (1922), dan Al-Manhal al-Warid fi Asanid Mukhtar ibn ‘Atharid. (Dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

iblis

Dialog Sufi dan Iblis

Dikisahkan Junaid Al Bagdad, serang sufi yang masyhur ini ingin bertemu Iblis. Hingga suatu hari akhirnya berjumpalah dengan makhluk laknatullah ini. Ada dialog menarik ketika

kulit kentang

Sepuluh Manfaat Kulit Kentang

Kentang dikenal sebagai umbi-umbian yang kaya manfaat untuk tubuh. Selain menyehatkan , rasanya juga enak ketika direbus atau digoreng. Namun ternyata kulit kentang juga mempunyai