Kiai Hasan yang Selalu Digandeng Rasulullah saw

kiai hasan

Kiai Muhammad Hasan atau populer dengan Kiai Hasan Genggong adalah salah satu ulama panutan. Beliau dikenal sebagai kiai yang lemah lembut dan seorang waliyullah. Beberapa kisahnya sampai sekarang masih dikenang oleh para santri maupun kaum muslimin.

Diantara salah satu kisahnya adalah datang dari Habib Ali bin Abdurrahman al Habsyi. Habib yang populer dengan nama Habib Ali Kwitang ini bahkan menitikkan air mata. Dikisahkan pada suatu hari tokoh legendaris Jakarta ini bertemu dengan Kiai Hasan Genggong. Beliau kemudian memeluk kiai Hasan dengan penuh haru. Air matanya menetes di pipi Habib Ali.

Salah seorang santri bertanya kepada Habib Al kemudian bertanya,” Bib, siapakah orang tua yang sangat sepuh yang engkau peluk tubuhnya itu?

“Wahai anakku, ketahuilah bahwa aku sering bermimpi berjumpa Rasulullah saw. Dan aku sering mendapati orang sepuh (Kiai Hasan Genggong) ikut mengiringi Rasulullah sambil memegangi tangannya Rasulullah,” jawab Habib Ali sambil menyeka air matanya.

Itulah salah satu kisahnya yang menandakan bahwa Kiai Hasan adalah yang mempunyai derajat tinggi. Tidak hanya itu banyak sekali kisah atau cerita perihal keramat pendiri Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Jawa Timur.

Kiai Hasan bernama kecil Ahsan. Beliau lahir di Sentong, Krejengan, Probolinggo Jawa Timur tahun 1840 dan merupakan putra dari Kiai Syamsuddin dan Hajjah Khadijah. Menempuh pendidikan pesantren dimulai dari Pondok Pesantren Sentong dibawah asuhan ayahnya sendiri KH. Syamsuddin hingga usia 14 tahun. Kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Sukonsari, Pojentrek, Pasuruan yang dipimpin oleh KH. Mohammad Tamin. Setelah itu nyantri di Pondok Pesantren Bangkalan selama 3 tahun asuhan KH. Mohammad Cholil.

“Wahai anakku, ketahuilah bahwa aku sering bermimpi berjumpa Rasulullah saw. Dan aku sering mendapati orang sepuh (Kiai Hasan Genggong) ikut mengiringi Rasulullah sambil memegangi tangannya Rasulullah,”

Tidak hanya di tanah air menuntut ilmu agama, selama 3 tahun beliau juga belajar di Mekah Al Mukarramah. Diantara gur-gurunya adalah Kiai Nawawi bin Umar Banten Mekah, Kyai Marzuki, Kiai Mukri, Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatho, Habib Husein bin Muhammad bin Husain Al Habsyi.

Sebagai ulama beliau menorehkan beberapa karya berupa kitab. Diantara karyanya itu adalah Aqidatul Tauhid Fi Ilmu Tauhid, Nadzam Safinah Fiel Fiqhi, Al Hadits ‘Ala Tartibil Akhrufi Hija-iyah, Khutbatun Nikah, Khutbah Jum’at, Asy Syi’ru Bil Lughotil Manduriyyah.  Kiai Hasan wafat pada 1 Juni 1955.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain