Ulama Tarekat yang Berdebat Lewat Kitab

syekh saad

Perdebatan seru pernah terjadi antara dua ulama besar Minangkabau. Polemik tersebut terjadi antara abad 19 dan 20. Uniknya dua ulama tersebut berdebat lewat karya kitab.

Adalah Syekh Muhammad Saad Al-Khalidi atau yang populer dengan nama Syekh Saad Mungka bedebat dengan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Polemik berawal Saat Syekh Khatib menulis kitab berjudul Izhar Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin yang mempertanyakan  keabsahan Tarekat Naqsyabandiyah. Kitab tersebut berisi tentang berbagai praktek ibadah tarekat Naqsyabandiyah yang dianggap bid’ah.

Tidak terima dengan tuduhan itu  Syekh Saad Mungka membantah dengan menulis buku berjudul Irgham Unufil Muta’annitin fi Inkarihim Rabithathal Washilin. Kitab ini kemudian dikirim ke Mekkah lewat jamah haji. Dalam karyanya ini Syekh Sa’ad menjelaskan bahwa tarekat Naqsyabandiyah asalnya dari syara’ berdasarkan ;lengkap dengan dalil-dalilnya.  

Perdebatan belum berhenti. Pada 1907,Syekh Ahmad Khatib membantah dalil yang dikemukakan oleh Syekh Saad Mungka. Imam Masjidil Haram ini membuat dalam kitab berjudul al-Ayatul Bayyinat fi Izalati Khurafat Ba’dhil Muta’assibin.  Apa yang dikemukakan Syekh Ahmad Khatib kemudian dibantah lagi oleh Syekh Saad Mungka dengan karya kitab yang berjudul Tanbihul Awam ‘ala Taghrirat Ba’dhil Anam.  Disebutkan dalam kedua karya kitab memperlihatkan keterampilan Syekh Mungka dalam berdebat dan berpolemik lewat tulisannya yang tajam, kritis namun juga kocak.  

Namun diluar perdebatannya yang tajam keduanya akrab secara personal. Disebutkan bahwa ketika Syekh Khatib bertemu dengan Syekh Saad Mungka di Mekkah keduanya tampak akrab seakan tidak ada perdebatan sengit antara keduanya.

Siapa sebenarnya Syekh Saad Mungka? Beliau adalah ulama terkemuka Minangkabau abad 20 yang melahirkan banyak sosok ulama masyhur sesudahnya. Murid-muridnya antara lain KH Sirajuddin Haji Sirajuddin Abbas, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, Syekh Abbas Ladang Lawas Bukittinggi, Syekh Abdul Wahid Tabek Gadang, Syekh Abdurrasyid Parambahan Payakumbuh, Syekh Abdul Madjid Koto Nan Gadang Payakumbuh, Syekh Ahmad Baruah Gunung Suliki, Syekh Arifin Batu Hampar Payakumbuh, Syekh Yahya al-Khalidi Magek Bukittinggi.

“Namun diluar perdebatannya yang tajam keduanya akrab secara personal. Disebutkan bahwa ketika Syekh Khatib bertemu dengan Syekh Saad Mungka di Mekkah keduanya tampak akrab seakan tidak ada perdebatan sengit antara keduanya.”

Syekh Saad Mungka dilahirkan di Jorong Koto Tuo, Mungka, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, pada tahun 1857 M/1277 H. Ayahnya seorang ulama bernama Muhammad Tanta, sedang ibunya dari suku Kutianyia , Payakumbuh.  Syekh Saad Mungka juga digelari sebagai Syaikhul Masyaikh atau guru besar dan menjadi pemuka tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidi terkemuka.  

Masa mudanya berguru kepada Haji Abu Bakar di Tabing Pulai dan Syekh Muhammad Jamil Tungka hingga Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandih. Kemudian melanjutkan pendidikannya ke Mekkah pada 1874 dan bermukim di sana selama 26 tahun. Diantara guru-gurunya adalah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Muhammad Hasbullah al- Makki dan Syekh Ahmad bin Zainuddin al-Fatani. Beliau dikabarkan juga pernah berguru kepada Mufti al-‘Allamah az-Zawawi yang tak lain adalah  guru Sayyid Usman al Betawi

Di Mekkah juga  Syekh Mungka juga disebut bertemu dengan sejumlah ulama tarekat yang memiliki reputasi, seperti Syekh Abdul Karim Banten pemuka Tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah, Syekh Abdul ‘Azhim Maduri pemuka Tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah dan Syekh Abdul Qadir al-Fatani pemuka Tarikat Syathariyah. Beliau wafat pada 1922 di  Mungka dan  di samping Masjid Surau Baru.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain