Ketika Kiai Abbas Buntet Berperang Memakai Bakiak

kiai abbas

PITUTUR ID. Bakiak adalah salah alas kaki tradisional di tanah air. Kiai Abbas Buntet, Cirebon mempunyai kisah tentang bakiak ini.
Dikisahkan bahwa ketika pertempuran 10 November Surabaya akan dimulai, beberapa kiai diminta untuk ikut berjihad melawan Belanda. Salah satunya Kiai Abbas bin KH Abdul Jamil. Beliau kemudian berangkat ke Surabaya.


Ketika mau berangkat, Kiai Abbas menitipkan sebuah bingkisan kepada salah seorang pengawalnya yang bernama Abdul Wahid. Santrinya ini berfikir bahwa bingkisan tersebut adalah benda berharga. Hingga akhirnya bersama Kiai Abbas mampir di Rembang tempat Kiai Bisri Mustofa sebelum sampai Surabaya.


Saat dibuka ternyata bingkisan itu adalah sepasang bakiak, alas kaki yang terbuat dari kayu. Saat menuju Surabaya kiai Abbas meminta bungkusan yang isinya bakiak tadi.


Dengan bakiak inilah Kiai Abbas berjihad melawan Belanda. Bukan dengan sepatu. Tentu hal ini kontras dengan situasi perang yang banyak para prajurit menggunakan sepatu tentara.

Namun dari cerita para santri, Kiai Abbas Buntet berperang saat Kiai Abbas berdoa ada kejadian luar biasa. Tiba-tiba sejumlah alu dan lesung milik warga yang berukuran besar terbang menghantam tentara sekutu. Konon pesawat yang terbang Belanda bisa dilumpuhkan hanya dengan lemparan tasbih Kiai Abbas.

“Dengan bakiak inilah Kiai Abbas berjihad melawan Belanda. Bukan dengan sepatu. Tentu hal ini kontras dengan situasi perang yang banyak para prajurit menggunakan sepatu tentara.”

Beliau lahir pada Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 1879 M di desa Pekalangan, Cirebon dan putra sulung KH. Abdul Jamil yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon. Sedari usia kecil, beliau adalah seorang santri yang mengelana dari satu pesanteen ke pesantren lainnya.

Tercatat pernah menjadi santri di pondok pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon. Kemudian ke pondok pesantren Salaf Jatisari pimpinan kiai Hasan.

Setelah itu nyantri di pesantren Kiai Ubaidah Tegal, Jawa Tengah. Kemudian lanjut ke Tebuireng berguru kepada Hadratussyekh Kiai Hasyim ‘Asy’ari. Setelah itu melanjutkan ngajinya ke Mekkah Mukaramah dan berguru kepada beberapa ulama diantaranya KH. Machfudz Termas asal Pacitan, Jatim.

Kiai Abbas meninggal pada tahun 1365 H/1946 M, di usia 64 tahun, dan dibumikan di pemakaman pesantren Buntet. ***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain