Kiai As’ad, Laskar Bandit dan Sandal Jepit

kiai as'ad

PITUTUR ID. Kiai As’ad Syamsul Arifin adalah salah satu tokoh dibalik pertempuran 10 November di Surabaya. Laskar bandit ini kemudian bertempur di garda depan dalam pertempuran 10 November 1945.


Tentang laskar bandit ada cerita sendiri. Disebutkan bahwa setelah keluarnya Resolusi Jihad mengorganisir para bandit untuk bergabung dengan Laskar Palopor. Pilihan merekrut pada bandit bukan tanpa alasan karena mereka adalah para pemberani.

Maka dilatihlah para bandit ini dengan Laskar Palopor yang merupakan binaan Kiai As’ad. Mereka tidak hanya digembleng secara fisik tetapi juga ruhaninya. Kemampuan Kiai As’ad dalam mengorganisasi para brandal dan jawara dari wilayah Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Pasuruan dicatat oleh Syamsul A. Hasan (2003) yang dikutip Munawir Aziz.

Barisan Pelopor sering berpakaian serba hitam. Mulai dari baju, celana hingga tutup kepala. Senjata yang digunakan oleh Barisan Pelopor ialah senjata khas daerah yakni celurit, keris, dan rotan.

Para mantan bandit ini ikut bertempur khususnya di wilayah Tanjung Perak, Jembatan Merah dan di wilayah Wonokromo, Surabaya. Mereka datang Situbondo dan sekitarnya dengan menggunakan kereta api.

Mereka sangat setia dan patuh pada perintah kiai As’ad. Suatu salah satu pemimpinnya disuruh menjaga sandal para jamaah shalat Jumat. Kajadian tersebut berulang-ulang si dedengkot preman tersebut berpikir untuk memerintahkan anak buahnya menjaga sandal.


Usut punya usut dedengkot preman itu ingin melaksanakan shalat Jumat. Makin hari banyak para preman binaannya ingin melaksanakan shalat Jumat. Hingga akhirnya semua melaksanakan shalat.

Kiai As’ad adalah salah satu pahlawan nasional Republik Indonesia. Bernama lengkap K. H. R. As’ad Syamsul Arifin dikenal sebagai ulama kharismatik dan Dewan Penasihat (Musytasar) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Ulama ini tidak lepas dari dari berdirinya Nahdlatul Ulama(NU). Beliau adalah penyampai pesan yang berupa tongkat disertai ayat al-Qur’an dari Kholil al-Bangkalani untuk Hasyim Asy’ari, saat akan mendirikan NU.

Kiai As’ad wafat 4 Agustus 1990 di Situbondo pada umur 93 tahun. Beliau diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo, 9 November 2016 sesuai Keputusan Presiden Nomor 90/TK/Tahun 2016.***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain