Kala Guru Mansur Nekat Mengibarkan Bendera Merah Putih

guru mansur

PITUTUR ID. Guru Mansur Jembatan Lima Jakarta dikenal sebagai ahli falak yang mumpuni. Namun siapa tahu beliau pernah nekat mengibarkan bendera tak jauh di menera masjid.


Hal itu dikisahkan oleh Alwi Shahab dalam tulisannya. Kala itu pengibaran bendera Merah Putih sangat dilarang oleh pemerintah Belanda. Namun Guru Mansur yang dikenal juga sebagai pejuang kemerdekaan memasang bendera Merah Putih kubah menara masjid yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Masjid yang berusia ratusan tahun itu menjadi saksi tentang bagaimana ‘nekatnya’ Guru Mansur untuk menunjukkan cinta tanah airnya. Sontak perbuatan tersebut membuat pemerintah kolonial Belanda marah besar.

Masjid yang saat ini dikenal dengan nama masjid al Mansur ini memang menjadi tempat penggemblengan bagi santri untuk melawan penjajah Belanda.

Komplek masjid kemudian dikepung oleh pasukan Belanda dengan NICA nya yang baru datang ke Jakarta lewat Pelabuhan Sunda Kelapa. Baku tembak pun terjadi antara pejuang Indonesia dan tentara NICA yang kala itu masuk dari Pelabuhan Sunda Kelapa.

Seperti diduga, kisah selanjutnya Guru Mansur harus dipanggil serta diadili oleh Belanda. Guru Mansur kemudian kemudian ditahan.

Guru Mansur bernama lengkap Haji Muhammad Mansur bin ‘Abdul Hamid bin Muhammad Damiri bin Muhammad Habib bin Abdul Muhit al-Batawi. Pria kelahiran Kampung Sawah Jembatan Lima, Jakarta pada 1878 adalah putra dari pasangan KH Abdul Hamid dan Hj. Rofiah.

sebagai anak ulama, sejak kecil Guru Mansur dididik ketat ilmu agama. guru pertama kalinya adalah ayahnya sendiri KH Abdul Hamid. Kemudian beliau nyantri kepada suadaranya yaitu Kiai Mahbub bin Abdul Hamid dan kakak misannya yang bernama Kiai Thabrani bin Abdul Mughni. Tercatat pula pernah juga nyantri kepada Syekh Mujtaba Mester (Guru Taba) dan Sayyid Usman seorang Mufti Betawi.

Pada umur 16 tahun pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji bersama ibunya. Di kota suci itu beliau bermukim selama emat datun dan belajar kepada beberpa masyayih disana. Santar guru-gurunya adalah Umar Sumbawa, guru Muhtar, guru Muhyidin, Syekh Muhammad Hajat, Sayyid Muhammad Hamid, Syekh Said Yamani, Syekh Umar al-Hadramy dan Syeh Ali al-Mukri Guru Muchtar, Guru Mujidin,Syekh Muhammad Hajath,Sayid Muhammad Hamid,Syekh Sa`id Jamami,Umar Al-Hadramy,Syekh Umar Sumbawa,dan Syekh Ali Al-Mukri.


Dengan para masyayih itu Kiai Mansur memperdalam ilmu qira’atul Quran, tajwid, nahwu, sharaf, tauhid, fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadits, faraid, mantiq, bayan, falak, dan lain-lain. Salah satu gurunya Syekh Umar Sumbawi bahkan mengangkatnya menjadi katib atau sekretaris pribadi karena cerdas, tulisannya rapi dan cakap.

Sesampainya di tanah air menjadi ulama yang mempunyai banyak murid. Beberapa diantaranya menjadi ulama tersohor seperti Mualim Syafii Hadzami dan KH Abdullah Syafii.

Beliau wafat pada hari Jum’at, 2 Safar 1387 H bertepatan dengan tanggal 12 Mei 1967. Beliau dimakamkan di kompleks Masjid Al-Mansur.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain