Jamuan Kiai Ahmad Dahlan Untuk Pak Suaib

kiai ahmad

PITUTURID. Kiai Ahmad Dahlan adalah tokoh dengan kisah-kisahnya yang inspiratif. Pendiri Muhammadiyah ini adalah ulama yang patut diteladani. Salah satu kisahnya yang unik adalah ketika ia kedatangan Pak Suaib karibnya dari Cirebon.


Ini sebuah kisah yang disadur dari tulisan Simon Syaefuddin di laman islami.co. Diceritakan seorang bernama Suaib ingin bertemu dengan Kiai Ahmad Dahlan. Pria asal Cirebon ini lantas naik kereta ke Yogyakarta.
Setibanya di kota Gudeg ini, Pak Suaib langsung ke rumah Kiai Dahlan.

KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, pernah kedataangan tamu dari jauh. Sang tamu, sebut saja Pak Suaib, asal Cirebon, sangat tertarik dengan ajaran Kyai Dahlan.

Sesampainya di rumah tersebut langsung mengucapkan salam. “Assalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh,” kata Pak Suaib.

“Waalaikum Salam Warakhmatullahi Wabarakaatuh,” jawab Kyai Dahlan dari dalam rumah. Nampak Kyai Dahlan saat sedang bersiap menuju ke masjid Kauman. Pak Suaib lantas diajak duduk. Ia kemudian memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangannya.

Azan Magrib terdengar dari masjid. Kyai Ahmad Dahlan kemudian mengajak Pak Suaib untuk salat Magrib di masjid. Namun sebelum berangkat, Kyai Ahmad Dahlan menemui istrinya, Nyai Walidah. Beliu berpesan untuk menyediakan makanan.

“Kangmas, nasinya tinggal satu piring. Lauknya pun hanya tahu dan tempe,” ucap Nyai walidah

“Ya sudah, siapkan saja untuk tamu,” jawab Kiai Ahmad Dahlan.

“Nanti Kangmas makan apa?” tanya Nyai Walidah lagi.

“Aku tak usah makan. Tapi Nyai sediakan piring kosong, sendok, dan air segelas di meja yang berseberangan dengan tamu. Saya nanti pura-pura makan. Tolong lampunya matikan agar tamu tak melihat piring kosong,” pesan Kiai Ahmad Dalhan.

Kiai Ahmad Dahlan dan tamunya lantas pergi ke masjid. Setelah selesai mereka berdua bergegas balik ke rumah Kiai Ahmad Dahlan.

Sebelum masuk di rumah Kiai Ahmad Dahlan berkata, “Kita makan dulu ya. Pak Suaib datang dari jauh, mungkin belum makan.”

Pak Suaib yang memang sudah lapar, mengangguk. Ia tersenyum. “Terimakasih Kyai atas ajakan makannya.”
Sesampai di rumah, ternyata suasananya gelap. Ruang makan dan ruang tamu pun gulita.

“Pak Suaib, maaf ya, tadi baru saja lampunya mati. Minyaknya habis. Saya sedang minta bantuan tetangga untuk membelikan minyak tanah ke warung sebelah. Kita makan saja, nanti kelaparan. Saya juga sudah lapar,” jelas Kyai Ahmad Dahlan

Kemudian beliau menuntun Pak Suaib di tempat makan. Di meja makan yang sudah tersedia nasi, lauk, dan air minum. Sedangkan Kyai Dahlan duduk di seberang meja, berhadapan dengan tamu, dengan piring kosong dan segelas air putih.

“Monggo Pak Suaib. Silahkan dinikmati makanannya. Maaf makanannya sederhana,” kata Kiai Dahlan.

“Terimakasih Kyai.Enak sekali masakannya,” kata Pak Suaib.

Kyai Dahlan pun ikut “makan” menemain tamu di piring kosong. Sendoknya sengaja diadu dengan piring hingga berbunyi agar terdengar seperti menyendok makanan.

Usai jamuan makan, piring kembali dibawa Nyai Walidah ke dapur. Kemudian Kyai Dahlan mengajak Pak Suaib duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian, lampu pun dinyalakan lagi.

Pak Suaib nampak puas dengan jamuan yang disajikan Kyai Dahlan dan istrinya.***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain