Kisah Amplop Mbah Dullah untuk Kusir Dokar

Dikisahkan Mbah Dullah diminta mengisi pengajian sehabis Jum’atan di Desa Margoyoso . Seperti biasa selalu menyewa dokar untuk mengantarkannya hingga ke tempat tujuan.  Selesai selesai pengajian Mbah Dullah pamit dan oleh panitia diberi amplop. Salah seorang panitia kemudian berkata kepada Mbah Dullah, “Mbah, ini ongkos untuk naik dokar.’

Tidak seperti biasa Mbah Dullah menerima amplop tersebut. Maka pamitlah Mbak Dullah dan kemudian naik dokar langganannya. Ketika sampai rumah dan turun, Mbah Dullah memberikan amplop itu kepada sang kusir dokar. Diberi amplop yang berisi uang banyak, si kusir jadi heran dan berkata, “Kok amplopnya tebal mbah, terlalu banyak buat saya.”

 “Betul itu buat sampeyan, tadi panitia bilang, ini untuk ongkos naik dokar mbah,” Mbah Dullah menjawab.

Itulah sikap wirainya Mbah Dullah. Beliau sangat menghindari sesuatu yang syubhat. Mbah Dullah tidak  mau menerima  amplop dari panitia meskipun itu adalah haknya. Nama Mbah Dullah Salam adalah salah satu ulama yang melegenda. Kisah kewaskitaan dan keilmuannya sangat masyhur di kalangan pesantren. Tidak hanya itu Mbah Dullah juga dikenal sebagai salah satu mempunyai mencetak ulama yang mumpuni.

KH. Abdullah Zain Salam atau yang akrab dengan nama Mbah Dullah dilahirkan di desa Kajen Margoyoso Pati. Dilahirkan dengan nama  Abdullah dan kemudian ditambah dengan nama Zein untuk membedakan namanya dengan teman. Adapun nama Salam disematkan terkait dengan sama ayahnya. Secara garis keturunan, Mbah Dullah adalah cucu dari KH Muttamakin salah satu ulama yang berdakwah di wilayah Pati dan sekitarnya.

Perjalanan keilmuannya dimulai ketika masih kecil dengan mondok di pesantren Kiai Solichin di Jepara.   Saat usia tujuh tahun melanjutkan di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) di mana Ayahnya sendiri sebagai mudir (kepala sekolah) waktu itu. Setelah lulus kemudian mengaji di ke Kiai  Mohammad Sa’id Madura dan melanjutkan ke Pesantren Tebu Ireng, Jombang di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari.

Mbah Dullah adalah sosok yang teguh dalam mencari ilmu. Meski sudah menhadi ulama beliau masih aktif belajar pada beberapa ulama antara lain  KH. Muhammadun Kajen, KH. Arwani Amin Said Kudus dengan endalami Qiro’ah Sab’ah dan Thariqah. Beliau juga belajar kepadaKH. Abdul Hamid Pasuruan. Semua proses belajar ditekuni dengan senang hati untuk mengharap keberkahan dan ridho ilahi.

Sikap istikamah beliau patut untuk di contoh. Salah satunya adalah selalu melakukan sholat berjamaah dengan para santri. Sampai berumur 40 tahun beliau menjadi imam di musholla. Bahkan ketika sakit beliau masih berjamaah meski harus naik kursi roda Mbah Dullah juga berusaha melanggengkan puasa daud. Selain itu yang bisa kita jadikan teladan adalah sifat ketawadhu’an nya dan kedermawanan nya.   Dan Ahad, 25 Sya’ban 1422 / 11 November 2001 sore, ketika Mbah Dullah dipanggil ke rahmatullah dan dikebumikan di dekat surau sederhananya di Polgarut Kajen Pati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain