Kisah Ulama Inyiak Canduang Ketika Akan Ditangkap Belanda

Dikisahkan pada zaman penjajahan, sejumlah pasukan Belanda ingin menangkap Sulaiman ar Rasuli, seorang ulama kondang di Sumatera Barat. Disebutkan mereka akan menangkapnya saat syeikh Sulaiman sedang mengajar, karena beliaulah satu satunya pengajar di madrasah pada hari itu.  

Karena firasatnya yang tajam, Syeikh Sulaiman kemudian memutuskan untuk keluar menyusuri jalan di desanya, bukan untuk melarikan diri. Hingga beberapa saat kemudian bertemulah dengan rombongan tentara Belanda yang akan menangkapnya.     

“Hendak kemana tuan-tuan semuanya”? tanya syekh Sulaiman kepada tentara Belanda ternyata tidak mengenal wajahnya.

Tentara belanda hanya berpatokan kepada siapa yang sedang mengajar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) itulah Syekh Sulaiman Ar Rasuli. Memang pada hari tersebut  satu-satunya yang mengajar di MTI adalah syekh Sulaiman ar Rasuli.

Salah satu diantara tentara Belanda itu kemudian menjawab, “Kami hendak bertemu dan menangkap syekh Sulaiman.”

Mendengar hal itu dengan tenang Syekh Sulaiman justru menawarkan tentara Belanda untuk beristirahat di rumahnya,

“Alangkah baiknya tuan-tuan singgah terlebih dahulu di rumah saya. Karena tuan-tuan pasti akan bertemu dengan orang yang tuan-tuan cari,” katanya

Setelah beristirahat sejenak, seorang tentara kemudian bertanya,”Mana Syekh Sulaiman yang tuan katakan itu”?

“Syekh Sulaiman yang tuan-tuan cari itu adalah saya sendiri,” katanya

Mendengar jawaban tersebut, tentara Belanda menjadi terkejut dan bengong. Namun keanehan kemudian terjadi. Tentara Belanda mengurungkan niat untuk menangkap syekh Sulaiman  tanpa alasan yang jelas dan meminta maaf.

Itulah sekelumit cerita tentang Syeikh Sulaiman Ar Rasuli, ulama yang satu ini sangat gigih mempertahankan Madzhab Syafi’i di Sumatera Barat dan melawan penjajahan Belanda.

Adalah Syeikh Sulaiman ar Rasuli tokoh penting dari Persatuan Ulama Sumatera atau Ittihadul Ulama Sumatera. Tak kalah pentingnya adalah sebagai salah satu pendiri Persatuan tarbiyah Islamiyah atau PERTI. Disamping sebagai seorang ulama dikenal sebagai politisi dan aktivis organisasi.

Lahir di Candung, kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 1287 H/1871 M. Ayahnya Angko Mudo Muhammad Rasul adalah ulama besar di daerah tersebut.

Sebagai orang yang haus ilmu, Sulaiman berguru tidak hanya di wilayah Sumatera saja tetapi hingga ke Mekkah. Diantara gurunya adalah Syeikh Yahya Khalidi di Magek, Bukittinggi.

Kemudian dirinya pergi ke Mekkah untuk menuntut ilmu. Di sana Sulaiman ar Rasuli berguru dengan banyak ulama diantaranya Syeikh Akhmad Khatib Al Mingakabauwi.

Di Mekkah ini berjumpa pula dengan teman –temannya dari Nusantara yang kelak menjadi ulama terkenal diantaranya Kiai Haji Hasyim Asyari dari Jawa Timur, Syeikh Hasan Maksum, Sumatera Utara.

Khathib Ali al-Minangkabawi, Syeikh Muhammad Zain Simabur al-Minangkabawi, Muhammad Jamil Jaho al-Minangkabawi, Syeikh Abbas Ladang Lawas al-Minangkabawi dan lain sebagainya.

Sementara ulama Malaysia yang seangkatan dan sama-sama belajar di Mekkah dengannya antara lain adalah Syeikh Utsman Sarawak, Tok Kenali dan lain-lain.

Sekembalinya dari belajar di Makkah beberapa tahun, Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli mulai mengajar berdasarkan sistem pondok yaitu dengan halaqah. Tetapi hal ini tentu tidak sesuai dengan perubahan yang terjadi di Minangkabau dimana sistem pondok berubah menjadi sistem sekolah.

Maka pada tahun 1921 bersama dengan Syeikh Abbas dan Syeikh Muhammad Jamil Jaho mendirikan organisasi yang bernama Ittihadul Ulama Sumatera. Pendiriannya adalah untuk mengembangkan paham ahli sunnah wal jamaah dan membela Madzhab Syafii.

Organisasi ini juga menerbitkan media yang bernama Ar Radd wal Mardud yang diasuh oleh KH Sirajuddin Abbas. Kemudian pada 5 Mei 1928, Syeikh Sulaiman ar rasuli dengan sejumlah ulama sepakat mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah.

Dalam perjalanannya organisasi ini berubah nama menjadi Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Ormas yang awalnya konser pada dunia pendidikan Islam ini kemudian berubah menjadi partai politik setelah Indonesia merdeka atau tahun 1945.

Tidak hanya sebagai organisatoris ulung, Syeikh Sulaiman ar Rasuli ternyata mempunyai banyak karya.

Diantara karyanya adalah sebagai berikut:

  • Dhiyaus Siraj fil Isra’ Wal Mi’raj,
  • Tsamaratul Ihsan fi Wiladah Sayyidil Insan,
  • Dawaul Qulub fi Qishshah Yusuf wa Ya’qub,
  • Risalah al-Aqwal al-Wasithah fi Dzikri War rabithah,
  • Al-Qaulul Bayan fi Tafsiril Qur’an,
  • Al-Jawahirul Kalamiyyah,
  • Sabilus Salamah fi wird Sayyidil Ummah,
  • Kisah Muhammad Arif dan Perdamaian Adat dan syarak.
  • Ulama besar ini wafat pada tahun 1970 dan dimakamkan di Candung, Sumatera Bara

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain