Arab-Israel: Berani Damai Melalui Budaya

Diam-diam dan secara alami perdamaian warga Arab dan Israel berkembang melalui budaya.

Konferensi internasional Perdamaian untuk Kesejahteraan atau Peace to Prosperity berlangsung selama dua hari di Kota Manama, Bahrain. Konferensi dibuka Selasa malam, 25 Juni 2019. Konferensi ini merupakan gagasan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai upaya untuk mengakhiri konflik Palestina dan Israel. Namun, Palestina menolak hadir karena tak membahas solusi politik.


Konferensi akhirnya melahirkan keputusan pembangunan wilayah Palestina dan Israel dengan komitmen pengucuran dana sebesar Rp 700 triliun. Amerika sengaja menggelar konferensi ini di kawasan Teluk karena negara-negara itu selama ini dikenal sebagai sumber dana melimpah yang belum tersentuh.

Konferensi ini menekankan aspek solusi ekonomi untuk pembangunan Palestina dan sejumlah negara Arab di sekitarnya. Kawasan yang mendapat sorotan untuk memperoleh investasi dan pembangunan infrastruktur adalah Tepi Barat, Jalur Gaza, Mesir, Yordania, dan Lebanon.
Akankah perundingan akan membuah hasil terutama pada keabadian damai antar umat? Sejarah yang kemudian akan membuktikan. Meskipun Palestina dan Israel berseteru dan berperang, namun, secara budaya keduanya mulai melebur sejak sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Perkawinan antara mereka dan budaya Arab yang melaju kencang menyusup dalam budaya Yahudi, mulai terlihat.

Misalnya, pada tayangan televisi Al-Jazirah edisi 12 Januari 2016 yang menayangkan liputan tentang grup penyanyi asal Israel yang justru sukses dengan lagu Arabnya. Mereka menyebut grup itu dengan A-WA (Aywa) yang bermakna ya atau yes. Tiga bersaudara Yahudi itu adalah Tair, Liron, dan Tagel Haim. Mereka mendirikan grup band ini tahun 2015 lalu.

Lagu hiphop “Habib Galbi” (kekasih hatiku) tiba-tiba menjadi hit di Timur Tengah. Lagu hiphop asal Yaman ini menjadi menarik di tangan tiga dara berasal dari Shaharut, wilayah selatan Israel ini. Adalah penyanyi Israel Tomer Yosef yang menemukan bakat mereka dan memasukkan ke dapur rekaman dan melemparnya melalui televisi dan media sosial. Tiga dara itu kini hidup kenyal dengan menjual nyanyian Arab.

A-Wa menjadi bagian penyanyi Yahudi yang melantunkan lagu Arab. Bahkan, menurut mereka, tahun 1970-an, dunia Arab juga pernah mengidolakan Abdul Halim Hafid sebagai penyanyi yang ternyata berdarah Yahudi. Lagu Abdul Halim yang berjudul Qari’atul Finjan yang syairnya ditulis Pangeran Abdullah Al-Faisal dari Arab Saudi itu kini menjadi hit lagi dan mulai digandrungi remaja Yahudi.

A-Wa menjadi bagain dari sejumlah penyanyi Yahudi yang keranjingan nyanyi Arab yang tak hanya karena tinggal di negara-negara Arab. Dilka, misalnya, yang tingal di Mesir. Esther Alfassi di Maroko. Bnat Chamama dan Margarita Tzamani dari Yaman. Faiza Rushdi dari Irak. Fritzsa Damin, Luouisa Saadun dan Habiba Mlaika dari Tunisia. Radio dan televisi Israel mengumandangkan lagu-lagu mereka bersamaan dengan Jonathan Settel yang menyanyikan lagu-lagu Yahudi dalam bahasa Ibrani.

Bahkan di YouTube kita bisa saksikan para remaja Yahudi menyanyikan lagu-lagu Arab dalam pesta mereka. Lagu Arab memang nyaman dan enak didengar. Mereka fasih menyanyikan itu sambil berjingkrak-jingkrak mengikuti nadanya.

Sejak seratus tahun kembalinya Yahudi ke Palestina telah banyak perubahan yang terjadi. Banyak kasus yang tak pernah terjadi bisa kita saksikan melalui televisi. Misalnya hubungan cinta antara warga Arab dan Yahudi. Dari yang semula tabu dan dikecam secara adat dan politis, kini sudah mulai cair. Pernikahan Yahudi-Arab sudah sering terjadi, meksipun ada sebagian kelompok garis keras Yahudi yang menetangnya.

Pemerintah Israel sendiri membiarkan bahkan merestui hubungan lebih jauh antara dua suku bangsa yang memiliki induk sama ini. Kasus di Jaffa, menjadi aroma tak sedap bagi garis keras Israel. Ratusan orang menyerbu gedung pernikahan di kawasan Rischon le Zion. Kelompok ultra konservatif demo menentang pernikahan antara seorang warga muslim Israel dan calon isterinya yang beragama Yahudi dan beralih menjadi muslimah. Namun, sebaliknya, muncul dukungan buat pasangan pengantin dari kelompok kiri Yahudi. Mereka membuat demo tandingan dan mendukung.

Aksi itu dilakukan kelompok Yahudi konservatif Lehava yang berusaha mencegah asimilasi di tanah suci. Pasangan Yahudi-Muslim, Mahmud Mansur dan Maral Marlka tetap berlangsung dibawah tekanan massa. Dilaporkan, pasangan pengantin itu terpaksa menyewa 14 body guard untuk melindungi pengantin dan para tamu.

Jalur Cinta
Presiden Israel Reuven Rivlin mengecam aksi demo penentangan itu. Dalam statusnya di laman Facebook, Rivlin menilai para demonstran telah melangkahi batasan antara kebebasan berpendapat dan seruan kebencian. Menurutnya, kedua pengantin itu memiliki hak untuk menikah dan mendapat perlindungan dari konstitusi. Keputusan keduanya harus dihormati, tulis Rivlin.

Presiden Israel itu menegaskan, negara tidak memberikan tempat untuk tindak kekerasan, seruan kebencian atau rasisme “bertentangan dengan dasar-dasar” masyarakat Yahudi yang demokratis. Rivlin juga mengucapkan selamat kepada pasangan asal Jaffa itu. Tampak dalam undangan tercantum nama Menteri Kesehatan Israel, Yael German.

Kementerian Pendidikan Israel pernah melarang dimasukannya buku kisah percintaan Yahudi-Arab ke dalam kurikulum, yang langsung memicu kecaman dari berbagai kalangan. Tidak ada alasan spesifik yang dikemukakan Kementerian Pendidikan untuk melarang karya Dorit Rabinyan tersebut sebagai bahan pelajaran.

Tapi surat kabar Haaretz mengutip pejabat Kementerian Pendidikan, Dalia Penig, yang mengatakan bahwa salah satu alasan pelarangan adalah perlunya mencegah pembauran identitas antara Arab dan Yahudi. “Hubungan yang sangat dekat antara Yahudi dan Arab dianggap banyak pihak di masyarakat sebagai ancaman identitas,” kata Penig.

Komentar ini dikecam beberapa tokoh kebudayaan Israel, di antaranya Alon Idan, yang mengatakan keputusan tersebut mencerminkan bahwa pemerintah “ingin menjaga kemurnian darah Yahudi sehingga perlu melarang hubungan percintaan,” kata Idan seperti dikutip kantor berita AFP.

Buku Rabinyan diberi judul Kehidupan Perbatasan yang mengisahkan kisah penerjemah Israel yang jatuh cinta dengan seniman Palestina di New York. Kisah asmara ini tak berakhir bahagia karena penerjemah tersebut kembali ke Tel Aviv sementara sang seniman pulang ke Ramallah di Tepi Barat. Batas wilayah politik telah memutus hati keduanya. Novel ini, menurut BBC edisi 1 Januari 2016, menjadi salah satu pemenang penghargaan kesusasteraan karya-karya berbahasa Ibrani.

Terancamkan Yahudi? Benar. Biro Pusat Statistik Palestina (PCBS) memperkirakan pada 2020 jumlah penduduk warga Arab di Israel akan melebihi jumlah orang Yahudi. Surat kabar the National Post melaporkan, PCBS menyatakan 5,8 juta warga Palestina saat ini hidup tersebar di Israel, Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem Timur. Ini berbeda dengan jumlah orang Yahudi di Israel hanya enam juta jiwa. PCBS menyebut 2,7 juta warga Palestina telah tinggal di Tepi Barat, 1,7 juta jiwa di Gaza, dan 1,4 juta jiwa di Israel. (Musthafa Helmy)

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain