Tale Haji : Syair Haji dari Ranah Kerinci

Tale Haji menjadi salah satu bagian unik proses perjalanan haji bagi masyarakat Kerinci. Budaya ini telah berlangsung turun-temurun.

Sekali lagi, ibadah haji mempunyai pengaruh yang begitu mendalam bagi masyarakat Indonesia. Haji mampu menembus kultur masyarakat Indonesia dengan ragam budaya barunya. Salah satu diantaranya adalah tale haji atau tembang haji.

Bagi masyarakat Jambi tradisi ini adalah jejak turun temurun yang hingga kini selalu dendangkan hingga kini. Sudah menjadi tradisi, begitu kata para pemuka adat disana. Tale haji selalu meluncur dan menjadi identitas masyarakat Kerinci yang dikenal Islam,

Tale sendiri dipahami sebagai lagu tradisional khas masyarakat Kerinci. Nyanyian rakyat atau volk song yang lahir, tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Masyarakat Belui, Semurup, Siulak, Rawang dan Sungai Penuh dikenal sebagai masyarakat banyak melahirkan irama tale. Biasanya, lirik tale berbentuk pantun yang mempunyai sampiran dan isi.

Memang kini tale sudah banyak sudah banyak melalui proses akulturasi dengan kesenian modern. Hingga tidak salah tale berkolaborasi dengan genre musik lainnya seperti dangdut, pop hingga melayu. 

Kehadiran tale sendiri seiring dengan masuk dan perkembangan Islam di tanah Kerinci. Disebutkan bahwa kebudayaan masyarakat Kerinci banyak mengandung konsep dan makna Islami.

Konon kata  “tale” berasal dari kata “tahlil” yang berarti mentauhidkan Tuhan (Allah). Ditambahkannya lagi, kata “hu ala” atau “alaahu ala”  yang lazim diselipkan dalam sampiran dan isi pantun dalam tale, terambil dari kata “hu Allah” dan “Allahu ta’ala” yang berarti  Dia Allah dan Tuhan yang Maha Tinggi.

Begitu pula dengan budaya sike berasal dari kata “zikir” yang berati ingat kepada Allah SWT. Hal ini membuktikan seni budaya merupakan alat untuk menyebarkan Islam bagi masyarakat Kerinci.

Dalam beberapa penelitian menyebutka bahwa tale merupakan tradisi lisan di Jambi, khususnya masyarakat kabupaten Kerinci. Hingga tahun 70-an tale masih sering didendangkan masyarakat ketika melakukan “ande” (bekerja bersama-sama), terutama tatkala menuai padi di sawah.

Biasanya kelompok ande (asli bahasa Belui) ini memiliki bendera kelompok masing-masing. Tak heran kalau kita bisa menemukan bendera berkibar di tengah sawah. Saat ande menuai padi itulah tale ini sering didendangkan bersama-sama.

Selain dilakukan ketika ande, tale bersama-sama juga sering didendangkan saat menumbuk padi di lesung. Hal ini bisa terjadi bila terdapat dua lesung atau lebih dengan masing-masing lesung menumbuk tiga atau lebih penumbuk padi.

Bila dimainkan malam malam hari, irama suling bambu sering menjadi pengiringnya. Suasana pun bisa bertambah syahdu dan mengasyikkan.

Tale Haji

Tale joi/jai atau tale Haji adalah tale yang dilakukan untuk melepas keluarga atau anggota masyarakat yang akan bepergian naik Haji.

Hampir setiap malam, kita akan mendengarkan tale jai memenuhi angkasa melalui corong loadspeaker, hingga tengah malam pada bulan menjelang musim haji. Ini merupakan bagian dari seremonial pelepasan pemberangkatan calon haji.

Bagi masyarkat Kerinci, pergi haji meruupakan sesuatu yang istimewa. Kita boleh saja pergi ke mancanegara manapun di dunia ini, tanpa setahu sanak keluarga dan masyarakat desa.

Tetapi tidak demikian halnya dengan kepergian ke Makkah Almukarramah untuk menunaikan ibadah haji. Dimulai dengan ritual kenduri yang memberitahukan secara resmi kepada keluarga dan tetangga perihal rencana keberangkatan naik haji.

Dari sinilah mulainya tale haji itu. Kemudian giliran sanak saudara, yang secara bergantian mengundang kita untuk ditalekan. Begitulah seterusnya sampai menjelang keberangkatan.

Pada hari keberangkatan, masyarakat akan tumpah ruah memenuhi masjid (upacara pelepasan secara resmi) dan kemudian mengantar dengan berjalan kaki, lagi-lagi sambil bertale) sampai ke tempat pemberangkatan.

Tradisi ini menggambarkan wujud  kebersamaan warga masyarakat.  Selain berfungsi sebagai hiburan juga mempunyai fungsi ritual. Biasanya tale haji dinyanyikan petale yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Mereka dengan menyenandungkan pesan untuk para jamaah haji agar menjalankan rukun-rukun haji dengan sebaik-baiknya. Selain itu tale juga berisi pujian kepada Illahi rabbi dan kota suci Mekah.

Pewarisan tale keberangkatan haji dilakukan secara formal dan nonformal (alamiah).

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain