Maudu Lampoa Tradisi Maulud di Sungai Cikoang

Maudu Lampoa adalah salah satu upacara tahunan khas masyarakat Talakar Sulawesi Selatan

Memasuki bulan Maulid, masyarakat Indonesia mempunyai tradisi khasnya merayakan kelahiran Rasulullah saw. Banyak keunikan dan kekhasan tiap daerah dalam merayakannya. Salah satunya adalah tradisi yang disebut dengan Maudi Lampoa. Maudu Lompoa, yang menjadi puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 29 Rabiul Awal.

Tradisi Maulid Maudu Lompoa adalah salah satu peringatan tahunan khas suku Makassar, khususnya di Kabupaten Takalar. Kegiatan budaya ini menjadi unik karena berpusat di Sungai Cikoang dengan perahu julung-julung yang dihias.

Maudu Lampoa yang berarti Maulud Besar adalah warisan dari Sayyid Al’-Aidid seorang ulama penyebar Islam di daerah tersebut. Sayyid Jalaluddin Al-Aidid, seorang Mufti untuk Kesultanan Gowa di masa Sultan Alauddin (1593-1639). Beliau menikahi I Acara’ Daeng Tamami Binti Sultan Abdul Kadir Alauddin, seorang putri bangsawan Kerajaan Gowa.

Sebelum puncak acara warga mempersiapkan 40 hari sebelumnya. Persiapan diawali dengan je’ne-je’ne Sappara atau mandi pada bulan Syafar yang dipimpin oleh guru adat. Tidak hanya itu, ayam kampung yang akan dihidangkan pada puncak acara harus dikurung selama 40 hari. Ayam itu harus tempatkan di kandang yang bersih dan diberi makan beras bagus.

Disebutkan bahwa ada prosesi angnganang baku yaitu membuat bakul beras dari daun lontar. Setelah itu   menjemur padi dalam lingkaran pagar dan dilanjutkan adengka ase atau menumbuk padi dengan lesung. Setelah itu, warga setempat mengupas kelapa utuh yang ditanam sendiri

Mereka telah mempersiapkan segala kebutuhan seperti kapal yang akan dihias dengan kain sarung, aneka telur, kertas warna warni dan bahan makanan. Telur dihias dengan aneka warna hingga tampil mencolok dan meriah.

Hasil bumi seperti padi, ubi, sayur dan buah-buahan disusun di atas kapal sehingga menjadi sebuah karya seni yang unik. Aneka makanan seperti bakul besar yang terbuat dari anyaman daun lontar. Masyarakat menyebutnya dengan Baku Maudu. Isinya nasi setengah matang dilengkapi juga dengan lauk ayam kampung.

Dengan alunan gendang tradisonal yang bertalu-talu, julung-julung atau kapal kayu tersebut menyusuri sungai Cikoang. Prosesi ini menggambarkan simbolisasi sejarah masuknya Islam di wilayah tersebut.

Puncak acara diisi dengan ceramah keagamaan di atas Baruga di pinggir sungai Cikoang. Ada pula pembacaan Rate atau selawat Nabi Muhammad SAW. Tidak ketinggalan atraksi Akmanca’ yaitu atraksi pencak silat.

Maudu Lompoa diakhiri ketika warga yang beramai-ramai berebut isi Julung-julung dan mandi bersama di tepi Sungai Cikoang. Hal ini sebagai wujud rasa syukur dan kegembiraan warga atas rezeki melimpah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain