Dikili Adat Unik Menjelang Peringatan Maulid Nabi di Gorontalo

Tradisi Dikili berisi membaca biografi Rasulullah SAW dan zikir semalam suntuk.

Ada dua hal yang khas dalam perayaan Maulid Nabi di Gorontalo. Pertama adalah tradisi dikili dan kedua adalah Walima. Kedua tradisi ini saling berkaitan.  

Dikili atau modikili merupakan sesuatu yang penting dalam perayaan rangkaian perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bahkan dikili menjadi salah satu esensi dari pelaksanaan maulid nabi di Gorontalo.

Bagi masyarakat di sana dikili atau modikili dipandang sebagai kewajiban.

Dikili adalah acara puji-pujian yang menceritakan kisah Nabi Muhammad sejak lahir hingga wafat. Dikili dalam bahasa Gorontalo yang memiliki sinonim dengan kata zikir dalam Bahasa Arab.

Dikili atau modikili bisa menyebut, mengucapkan atau mengingat. Sebagai salah satu warisan budaya dan Dikili sering disebut sebagai “Sastra Zikir” Dalam dikili ada kisah-kisah perjuangan Nabi Muhammad selain juga selawat dan zikir.

Naskah atau Kitab Dikili tersebut ditulis dengan aksara Arab atau huruf hijaiyah namun menggunakan bahasa Gorontalo (Aksara Arab Pegon).

Acara dimulai dengan pembacaan doa tahlilan dan dilanjutkan dengan melantunkan zikir beserta selawat Nabi SAW dan puji-pujian kepada Allah SWT semenjak pagi hingga menjelang siang.  

Pada malam harinya imam, ulama, dan pegawai syara’ atau pemangku adat yang terus melantunkan syair-syair zikir.

Dalam Dikili ada beberapa kelompok. Masing masing kelompok minimal beranggotakan 5 pembaca zikir. Dalam acara dikili, posisi para pelantun zikir dipisahkan berdasarkan jenis kelamin.

Mereka duduk di dalam masjid dan biasanya dipisahkan oleh pagar bambu kuning yang dihiasi pula dengan janur kuning. Masing-masing kelompok selanjutnya mengemban tugas melantunkan 18 judul dzikir/dikili sesuai lantunan khas.

Adapun lantunan dikili terdiri dua yaitu pertama Jabu, lantunan sejenis seriosa sebanyak 154 bagian. Kedua, Lapali serta ditutup dengan bagian terakhir sedikit berirama ngebeat atau mars.

Biasanya  terletak pada kalimat ‘alimun siri waafa amustasi’.  Adapun perbedaan Jabu dan Lapali bedanya terletak pada syairnya saja sedangkan iramanya sama.

Disebutkan tradisi ini dimulai masa kepemimpinan Raja Eyato (1663-1669). Kisahnya berawal saat Raja Eyato  pergi ke Ternate. Di ternate Raja Eyato terkesan pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Ternate yang memakai buku Syarful Anaami (Al Barjanji).

Sekembalinya ke Gorontalo, Raja Eyato bersama para ulama bekas muridnya melaksanakan tradisi yang didapat dari Ternate tersebut. Dan tradisi ini berlaku hingga sekarang.

.

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain

lailatul qodar

Empat Tanda Lailatul Qodar

Malam lailatul qodar adalah malam yang ditunggu kaum muslimin saat bulan Ramadhan tiba. Banyak keutamaan di malam mulia tersebut. Diantara keutamaan adalah diampuni dosanya yang