Ahlus Suffah dan Kisah Tumbuhnya Sufisme

Ada sebuah tempat di Masjid Madinah yang mempunyai sejarah panjang hingga kini. Di tempat tersebut nama-nama yang cemerlang dalam sejarah Islam. Mereka adalah ahl suffah yang mempunyai keteguhan dalam melatih jiwa dengan beribadah kepada Allah SWT. Ahlu Suffah inilah yang kemudian menjadi rujukan para sufi.

Menurut sejarawan tempat Ahlu Suffah itu terletak di pinggir masjid Nabawi di Madinah. Di tempat itu berkumpul para sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Muhajirin yang miskin karena mengungsi menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir di Mekah dengan tidak membawa harta benda. Suffah yang mereka tempati itu bukan tempat tinggal permanen sebelum mendapatkan tempat tinggal yang permanen. Disebutkan pula bahwa di tempat sederhana inilah Rasulullah SAW mendirikan pusat pedidikan Islam.

Seorang ulama ahli tasawuf bernama Abu al Wafa al Ghanimi at Taftazani pernah mengatakan bahwa suffah adalah ruangan yang terdapat di ujung Masjid Nabawi di Madinah yang dihuni oleh oran-orang miskin yang tidak berkeluarga di kalangan orang Muhajirin dan Ansar. Di tempat tersebut mereka memusatkan perhatiannya kepada Allah SWT dengan beribadah, melatih jiwa, dan menjauhkan diri dari berbagai pesona dunia. Para sahabat Nabi ini kemudian dikenal dengan Ahl Suffah.

Diantara sahabat yang pernah mengnap di Ahlu Suffah antara lain Salman Al Farisi, Abu Hurairah, Muad bin Jabal, Abu Dzar al Ghifari, Abdullah bin Mas’ud, Anas bin Malik, Bilal bin Rabah dan lain sebagainya. Para sahabat yang termasuk ahlu suffah adalah sahabat besar yang saleh karena ketakwaan dan keteguhan mereka dalam beribadah kepada Allah.

Selain Abu Hurairah, masih ada beberapa sahabat lain yang tergabung dalam kelompok Ahlus Shuffah ini. Al-Qurthubi menyebutkan bahwa jumlah mereka mencapai 400 orang. Berbeda dengan al-Qurthubi, al-Asbahani menyebutkan 70 orang. Mereka adalah Shafwan bin Baidha’, Khuraim bin Fatik al-Asadi, Khubaib bin Yasaf, Salim bin Umair, Jurhud bin Khuwailid, Abu Suraihah Al Ghifari, Haritsah bin Nu’man al-Anshari, Abdullah Dzu al-Bajadain , Tsaqif bin Amr, Asam bin Haritsah bin Sa’id al-Aslami, Hanzhalah bin Abu Amir al-Anshari, Hazim bin Harmalah, Hudzaifah bin Usaid, Jariyah bin Jamil bin Syabat bin Qarath, Ju’ail bin Saraqah al-Dhamri, Sa’ad bin Malik, Irbadh bin Sariyyah, Gharfat bin al-Azdi, Abdurrahman bin Qarth, Ubbad bin Khalid Al-Ghifari, Salim, mantan budak Abu Hudzaifah, Safinah dan lain sebagainya.

 Allah SWT menggambarkan Ahlu Suffah dalam surat al Kahfi ayat 28: ”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Seorang ulama sufi yang hidup pada 5 H, Abu Nuaim At Tusi menggambarkan ayat diatas sebagai sifat-sifat yang dimiliki oleh ahlu suffah. Bahkan beberapa peneliti merujuk kata sufi berasal dari suffah. Mereka beranggapan bahwa ada keterkaitan epistimologis antara dua kata tersebut. Walaupun dalam bahasa Arab kata sufi lebih tepat dikaitkan dengan kata suf yang diartikan sebagai bulu domba atau pakaian kasar yang sering digunakan para sufi. Pakaian ini juga melambangkan kesederhanaan.

Disamping itu juga ada kesamaan tabiat antara para sufi dan ahlu suffah yang terlihat dari keteguhan pendirian, ketekunan beribadah dan tidak terpengaruh oleh pesona duniawi.  (dari berbagai sumber)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan:

Artikel Lain